Radar Jogja Online
SEMANGAT: Kapolres Gunungkidul AKBP Nugrah Trihadi (tengah) berusaha keras menyikapi kasus bunuh diri di wilayah hukumnya.
GUNUNGKIDUL – Agama melarang bunuh diri. Namun, realita di Gunungkidul, banyak warga yang tak sanggup melanjutkan kehidupan.

Kapolres Gunungkidul AKBP Nugrah Trihadi mencatat, sepanjang 2016, ada 22 orang yang putus asa dan melakukan tindakan bunuh diri. “Berdasarkan data awal tahun hingga Juli ini, tercatat 22 kasus bunuh diri,” ungkap Nugrah Trihadi Kamis (28/7).

Menurut Nugrah, kasus tersebut harus disikapi serius. Dalam upaya menekan tindakan bunuh diri, ia memberi tugas tambahan pada anggota Babinkamtibmas di setiap desa melakukan pendataan terhadap warga potensial melakukan bunuh diri.

“Bahkan belum ada tiga bulan saya menjabat sebagai kapolres sudah ada delapan warga tewas karena bunuh diri. Ini memprihatinkan sekali,” ujarnya.

Berdasarkan laporan penanganan kasus, pemicu bunuh diri cukup beragam. Mulai sakit menahun, stres masalah keluarga, kesepian ditinggal merantau, dan sebab lain. Karena itu, Babinkamtibmas harus melakukan pendataan di setiap desa tempat tugas masing-masing.

“Jika data potensi bunuh diri sudah diperoleh, selanjutnya menjadi telaah bersama dan mendapat penanganan serius melibatkan lintas instansi,” terangnya.

Mengawali gebrakan menekan kasus bunuh diri, kepolisian membuat spanduk berisi ajakan meningkatkan gairah hidup. Apapun masalahnya, setiap orang harus optimistis dan tidak sampai berputus asa. “Semoga upaya ini mampu menekan angka bunuh diri,” ucapnya.

Untuk mengingatkan, data tertinggi kasus bunuh diri ada di 2012, yakni mencapai angka 39 orang. Kemudian jumlah tersebut turun pada 2013 menjadi 29 kasus. Tahun 2014 turun menjadi 19 kasus dan tahun 2015 naik menjadi 31 kasus bunuh diri. Per Juli 2016, sudah mencapai 22 kasus.

Di bagian lain, Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari Ida Rochmawati mengatakan, gangguan kejiwaan berpengaruh terhadap tingginya kasus bunuh diri. Ciri-ciri gangguan jiwa ringan seringkali stres, depresi, atau mengalami keadaan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

“Jika menemukan orang dengan prilaku demikian, jadi tanggungjawab bersama untuk memberikan pertolongan,” kata Ida.

Kepada lintas sektoral, Ida berharap kerja sama untukmelakukan penanggulangan kasus bunuh diri. Salah satunya, mengantisipasi kejadian bunuh diri dengan sosialisasi tentang penting kesehatan jiwa.(gun/hes)