MUNGKID – Ambrolnya ruang kelas MI Al Huda, Sidomulyo, Secang, Kabupaten Magelang mengundang perhatian banyak pihak. Terlebih, musibah itu mengakibatkan terganggunya kegiatan belajar-mengajar (KBM) siswa. Agar persoalan tersebut tak berlarut-larut, DPRD Kabupaten Magelang mendesak pemerintah daerah segera turun tangan.

“Pemerintah harus segera bertindak. Melalui Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama,” ujar Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Magelang Mahmud kemarin (31/7).

Politikus bergelar sarjana hukum itu menegaskan bahwa dunia pendidikan perlu mendapat perhatian bersama. Bukan tanggung jawab salah satu lembaga saja. “Semua harus peduli. Pikirkan solusi agar KBM di MI Al Huda berjalan normal kembali,” ucap pria kelahiran 20 Juni 1973 itu.

Sebagaimana diketahui, ruang kelas IV MI Al Huda ambrol saat dilanda hujan deras sekitar pukul 12.30, Sabtu (23/7). Diduga, kuda-kuda penyangga atap rapuh karena sudah uzur. Akibatnya, sebagian siswa dan guru harus menjalani KBM dengan meminjam ruangan di
salah satu Taman Pendidikan Alquran di dekat sekolah. Pihak sekolah juga membagi satu ruangan lain untuk dijadikan dua kelas.

Wakil Ketua DPRD Yogyo Susaptoyono sangat menyayangkan sikap lamban pemerintah daerah dalam mengatasi masalah tersebut. Dunia pendidikan seolah bukan lagi prioritas Pemkab Magelang.

“Sungguh ironis, masih ada ruang kelas yang ambrol. Padahal, sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) tahun anggaran 2015 mencapai Rp 492 Miliar,” bebernya.

Yogyo meminta pemkab memanfaatkan silpa untuk pembenahan fasilitas umum. Termasuk sarana pendidikan.

“Pemkab memiliki dana begitu besar namun bidang pendidikanya kurang diperhatikan. Mestinya tidak sekolah yang mencari bantuan, tapi pemkab yang berperan aktif,” sindirnya.

Kepala MI Al Huda Ciptasari mengatakan, meski hanya satu ruang kelas yang ambrol, kondisi bangunan rapuh mengancam keselamatan penghuninya. Sebab, bangunan tersebut terdiri atas satu gedung utuh yang dibagi beberapa ruangan. Atap bangunan pun satu deretan tanpa penggalan. Hal itu tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan siswa dan guru saat KBM di sebelah ruangan yang atapnya ambrol. Mereka dihantui perasaan was-was jika sewaktu-waktu atap ruangan kelas lain ambrol. “Kami sudah berupaya mencari bantuan ke beberapa lembaga, ” katanya.

Terpisah, Kasi Pendidikan Madrasah, kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang Faturahman mengaku tak bisa berbuat banyak mengatasi musibah di MI Al Huda. Alasannya, anggaran bantuan sosial untuk perbaikan infrastruktur yang dimiliki lembaganya sangat terbatas. Karena itu, dia menyarankan pihak sekolah bersangkutan segera menyusun proposal permohonan bantuan. Ditujukan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang.

“Sudah kami koordinasikan dengan kanwil Semarang. Dan kami sudah memerintahkan kepala madrasah untuk segera membuat surat ambrolnya sekolah. Karena bencana alam (maka) ke BPBD,” dalihnya,” (ady/yog/ong)