HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PEDULI: Penyerahan sembako yang dilaksanakan di sela kegiatan bakti sosial warga yang tergabung dalam paguyuban Mbah Wiro di Laguna Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, kemarin (31/7).

Bagi-Bagi Sembako dan Bersihkan Pantai Glagah

Puluhan warga yang tergabung dalam komunitas Mbah Wiro menggelar bakti sosial bagi-bagi sembako dan bersih pantai di kawasan Objek Wisata Laguna Pantai Glagah, Kecamata Temon, Kulonprogo, kemarin (31/7). Kegiatan itu sebagai bentuk kepedulian kepada warga yang tidak mampu dan lingkungan sekitar.

HENDRI UTOMO, Temon
DAYA tarik di salah satu objek wisata adalah panorama alam yang sudah diciptakan Tuhan. Namun, ciptaan Tuhan itu akan lebih indah lagi jika dirawat dengan baik. Berangkat dari situ, komunitas Mbah Wiro mengadakan bersih-bersih di sekitar Laguna Pantai Glagah. Tak berhenti di situ, mereka juga membagi-bagikan sembako ke warga sekitar laguna.

Ketua Umum Paguyuban Mbah Wiro Sudaryanto menjelaskan, paguyuban Mbah Wiro memiliki kantor sekretariat di Wirobrajan, Jogja. Sejauh ini, komunitasnya sudah banyak melakukan kegiatan dengan semangat menjaga kenyamanan Jogjakarta dan menyatukan warga jogja yang majemuk.

“Anggota kami ratusan, kali ini menggelar bakti sosial sekaligus bersih-bersih pantai dari sampah,” jelasnya, kemarin.

Aksi ini dilakukan untuk menjaga kelestarian pantai. Menurutnya, kalau kumuh penuh sampah tentu akan mengganggu kenyamanan. “Biar tampak asri enak dipandang kami gelar aksi ini, tentunya juga mengajak masyakarat untuk peduli dengan kebersihan, jangan buang sampah sembarangan,” ujarnya.

Komandan sekaligus Koordinator Lapangan Mbah Wiro DIJ Supriyono menambahkan, inti kegiatan komunitas Mbah Wiro adalah mempersatukan warga Jogjakarta agar tidak bentrok. Dengan begitu tercipta hidup yang tenang dan nyaman.

“Kami mencoba menyeimbangkan. Agar tetap akrab dan tidak saling bermusuhan antarwarga,” ungkapnya.

Diungkapkan, belum lama ini pihaknya sempat menemui Sultan HB X terkait gejolak warga Papua di Jogjakarta, dominasi salah satu etnis tidak semestinya terjadi di Jogjakarta, apalagi membawa isu membangkan NKRI. “Kami mencoba untuk berada di tengah-tengah,” ungkapnya. (ila/ong)