Harnum kurniawati/radar jogja
JUALAN DI GANG SEMPIT: Gus Muna (Choirul Muna), anggota DPR RI Dapil Jateng, saat meninjau pedagang Pasar Pahingan kemarin (31/7). Para pedagang terpaksa jualan di gang sempit di sisi selatan dan utara Masjid Kauman, daripada direlokasi ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro.
MAGELANG – Pemerintah Kota Magelang akhirnya benar-benar merealisasikan rencana relokasi pedagang pasar Minggu Pahing (Pahingan) yang membuka lapak di alun-alun depan Masjid Agung Jami’ Kauman kemarin (31/7). Setiap pedagang yang hadir di alun-alun diminta pindah ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro. Sebelum mereka sempat menggelar dagangan.

Proses relokasi dilakukan aparat Dinas Pengelola Pasar (DPP) dan Satpol PP. Kendati demikian, tak semua pedagang mengindahkan instruksi aparat. Bahkan, sekelompok pemuda yang menamakan diri Forum Masyarakat Menolak Relokasi Pasar Pahingan sempat melobi aparat, sehingga sebagian pedagang diperbolehkan berjualan di sekitar masjid.

Kepala DPP Joko Budiono mengaku, tak tebang pilih tentang siapa pedagang yang harus menjalani relokasi. Joko menegaskan, pada prinsipnya semua pedagang Pahingan tak boleh berjualan di kawasan alun-alun. Namun, hanya 30 pedagang yang berhasil dipindahkan ke Lapangan Rindam.

Sementara, sekitar 45 pedagang lain mengikuti anjuran FMMRPP. Pentolan FMMRPP Muhammad Nafi mengklaim sebagai pihak yang memfasilitasi pedagang agar tetap bisa berjualan di area masjid. Nafi mengklaim telah mendapatkan persetujuan dari ketua RW dan takmir masjid. “Ini sekaligus menjadi tamparan bagi pemkot bahwa Pahingan tidak bisa dipisahkan dari pengajian,” ujarnya disela pengajian.

Menurut Nafi, ada sekitar 45 pedagang yang berjualan di sisi utara dan selatan masjid. Mengenai kebijakan relokasi, Nafi menyatakan, terus akan menentangnya. Dia bahkan berencana mengadukan masalah tersebut ke gubernur dan presiden. “Kami sudah layangkan surat permohonan audiensi kepada wali kota. Tapi sampai sekarang belum ada respon,” sesalnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Dapil Jateng Choirul Muna menilai kebijakan relokasi tidak logis. Apaagi, jika pemkot beralasan hanya agar jamaah pengajian lebih khusyuk. Padahal, para pedagang termasuk jamaah yang berniat pengajian, sekaligus mengais rezeki. “Khusyuk itu, kan tergantung orangnya. Pengajiannya saja di Kauman, masak jualan di Rindam, ini tidak logis,” sindirnya.

Agar persoalan relokasi pedagang Pasar Pahingan tak berkepanjangan, Muna berencana menemui Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito untuk mendiskusikan masalah tersebut.

Sumiyati, 64, pedagang Pasar Pahingan, berharap tetap boleh berjualan di alun-alun. Namun, dia mengaku ketakutan ketika melihat polisi dan Satpol PP berjaga. “Tadinya saya sudah akan dibawa ke Rindam. Setelah mendengar jika boleh jualan di sekitar masjid, saya beranikan diri ke tempat itu,” ungkap penjual cenil asal lereng Sumbing itu.(nia/ong)