BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
SUDAH BISA TERTAWA : Muhammad Nizar, siswa keracunan nasi kuning yang terpaksa harus opname, saat berada di RSUD dr Tjitrowardojo.
PURWOREJO – Jajanan sekolah yang mengakibatkan keracunan selama kurun waktu 2016 ini tidak hanya sekali terjadi di Purworejo. Sebelum muncul kasus keracunan nasi kuning yang dialami siswa Sekolah Dasar Negeri Krandegan, Kecamatan Bayan pada Kamis (28/7), puluhan siswa SDN Jetis, Kecamatan Loano terpaksa dilarikan ke Puskesmas terdekat karena keracunan minuman kedaluwarsa pada Januari lalu.

Munculnya kasus-kasus keracunan yang bersumber pada jajanan sekolah mengundang Komisi D DPRD Purworejo angkat bicara. Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Purworejo diminta memiliki langkah bijak dengan memunculkan kebijakan tanpa membunuh pendapatan pedagagng.

“Harus ada tindakan untuk mengantisipasi terjadinya kasus serupa. Jangan korbankan anak,” ungkap Ketua Komisi D DPRD Purworejo Rujiyanto, kemarin (31/7).

Ditambahkan Rujiyanto, keberadaan pedagang jajanan cukup marak dalam beberapa tahun terakhir. Pemberian uang saku lebih dari cukup dari orang tua menjadikan anak leluasa membelanjakannya. Minimnya pengetahuan anak terhadap jajanan sehat menjadikan mereka sering tertipu dengan tampilan jajanan yang ada.

“Melarang pedagang jajanan berada di sekolah tidak mungkin, karena mereka butuh penghasilan. Hanya perlu pemahaman kepada anak-anak bisa memilah mana makanan yang sehat dan tidak,” jelasnya.

Dengan pemahaman yang baik dari peserta didik, mereka bisa menentukan jajanan yang tepat bagi mereka. Sementara bagi pedagang sendiri akan tergerak memperhatikan barang yang dijajakan. “Dari sini akan terbangun kebutuhan yang menguntungkan bagi anak maupun pedagang,” ungkap Rujiyanto.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah pendekatan terhadap pedagang. Sekolah menugaskan guru-guru piket berada di lokasi jualan pedagang saat jam istirahat atau pulang sekolah. Guru juga perlu melakukan pengecekan terhadap jajanan yang disediakan pedagang.

“Secara rutin dan berkala juga harus ada pemeriksaan dari aspek kesehatan makanan, dimana dinas pendidikan bisa mengandeng dinkes untuk melakukan pemeriksaan jajanan,” terangnya.

Sementara itu, perkembangan kasus keracunan terhadap siswa SDN Krandengan Bayan masih berlanjut. Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo melakukan pemeriksaan sampel makanan dengan mengirimkan sisa nasi kuning ke Laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta pada Jumat (29/7).

Dinkes hanya bisa mengirimkan sisa makanan dan tidak bisa mendapatkan sisa muntahan siswa karena saat tim surveilans dinkes ke lapangan, lokasi telah dibersihkan. Ini tidak menjadi masalah karena dari hasil penelitian sisa makanan tetap bisa diperoleh informasi mengenai penyebab keracunan.

“Makanan tidak sehat yang dijajakan sering menjadi penyebab terjadinya keracunan anak di Purworejo. Berbeda dengan kantin sekolah yang bisa diawasi setiap saat. Untuk pedagang jajanan keliling agak sulit karena mereka sering berpindah tempat,” kata Kepala Bidang Pengedalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Purworejo drg Dwitiya Suprijono.

Dari Rumah Sakit Umum Daerah dr Tjitrowardojo diperoleh keterangan jika dua dari enam korban keracunan SDN Krandengan yang sempat bermalam di rumah sakit telah diperkenankan pulang pada Jumat (29/7) sore. Keduanya harus bermalam karena dokter menyatakan jika mereka harus dilakukan observasi lebih lanjut karena masih muntah dan mengeluhkan pusing.

“Jika masih ada keluhan, bisa memeriksakan ke rumah sakit,” kata Humas RSUD dr Tjitrowardojo Purworejo Leli Dewi Pramudyani, kemarin. (udi/ila/ong)