HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
SUSUN STRATEGI: Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DIJ Eko Suwanto di sela konsolidasi kader, simpatisan, dan struktural PDIP Kota Jogja di Stadion Kridosono, kemarin (31/7).
TERLEPAS insiden di Bantul, kader PDIP di Kota Jogja terus memperkuat jaringan. Terlebih mendekati Pilwali 2017. Mereka semakin memperkokoh strategi yang akan digunakan, utamanya lewat media sosial (medsos).

Efektivitas serangan darat PDIP di Kota Jogja sudah tak terbantahkan lagi. Partai berlambang banteng gemuk itu sukses mendulang puluhan ribu suara pada Pileg 2014. Bahkan, pada Pilwali 2011 silam, mereka menorehkan sejarah dengan mengantarkan pasangan Haryadi Suyuti dan Imam Priyono menjadi wali kota dan wakil wali kota.

Kini, untuk menambah serangan darat tersebut, PDIP akan menguati serangan udara. PDIP mulai menyeriusi medsos untuk alat propaganda dan agitasi. “Relasi interaksi dan komunikasi politik saat ini tidak bisa lepas dari keberadaan medsos. Ini akan kami manfaatkan,” ujar Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DIJ Eko Suwanto di sela konsolidasi kader, simpatisan, dan struktural PDIP Kota Jogja di Stadion Kridosono, kemarin (31/7).

Eko menjelaskan, penguatan serangan udara ini akan mereka awali untuk memenangkan pilwali. “Pengguna gadget di Kota Jogja sudah merata. Buktinya, pemegang KMS sudah banyak yang memiliki handphone android,” jelasnya.

Politikus muda ini menegaskan, politik sudah tidak lagi menjadi milik elite. Karena adanya partisipasi politik dari banyak pihak untuk suarakan pendapat dan harapan publik lewat beragam kanal. “Pak Jokowi adalah salah satu contoh sukses internet positif yang efektif,” tandasnya.

Selain itu, sesuai dengan garis perjuangan partai, tiap kader partai diwajibkan untuk bisa memahami rakyat, menghimpun semangat, dan mengkonsolidasikan kemauan. “Dengan media sosial, bisa juga langkah untuk mengorganisir dan mendidik rakyat memiliki kesadaran politik,” katanya.

Bahkan, sebelum konsolidasi darat, kader potensial PDIP sudah mendapatkan pelatihan selama dua hari dengan menghadirkan dua pakar medsos yang sukses mengantarkan Jokowi menjadi presiden, yakni Ajianto Dwi Nugroho dan Reza Yunanto. Selama dua hari itu, peserta pelatihan mendapatkan materi berupa pemahaman dan strategi pemanfaatan medsos secara efektif.

“Kini politik sudah berbeda suasana dengan zaman dulu. Media sosial mengubah praktik politik, menjadikan lebih banyak orang terlibat, berpolitik bisa dijalankan dengan ceria,” kata trainer Ajianto Dwi Nugroho. (eri/ila/ong)