BANTUL – Pemkab Bantul kembali menggelar media promosi produk unggulan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Program tahunan bertajuk Bantul Ekspo (BE) digelar pada 1-11 Agustus. Tak kurang 115 peserta memadati kegiatan yang selalu menjadi magnet para perajin dan pelaku UMKM itu.

Ada yang berbeda dengan BE kali ini. Tidak ada maskot yang bertengger di area pameran, seperti penyelenggaraan BE tahun-tahun sebelumnya.

Kabag Humas Setda Bantul Andhy Soelistyo mengungkapkan, panitia sebenarnya telah mengajukan maskot ke Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Namun, maskot ini ditolak karena sudah tercatat dalam rekor MURI. “Insyaallah ada maskot baru tahun depan,” tuturnya tanpa menyebut maskot apa yang direncanakan kemarin (1/8).

Andhy mengklaim, jumlah peserta BE kali ini jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hampir separo dari total peserta merupakan kalangan swasta. Sisanya berupa stan satuan kerja perangkat daerah, kecamatan, hingga kelurahan. Total ada 223 stan pameran.

Kendati demikian, Andhy enggan bicara soal potensi perputaran uang di acara tersebut. Alasannya, semua proses transaksi hanya diketahui pengelola stan. “Kami hanya memfasilitasi pameran produk unggulan mereka,” ujarnya disela pembukaan BE.

Diakui, pemkab tak banyak berperan dalam ajang kali ini. Menurut Andhy, pengelolaan stan swasta diserahkan kepada pihak ketiga. Berbeda dengan tahun lalu, dimana pengelolaan stan oleh Bagian Humas Setda.

Meski uang sewa stan masuk ke kantong pihak ketiga, Andhy mengklaim, pihaknya tak mengalami kerugian.

Bupati Bantul Suharsono mengapresiasi slogan Makaryo Mbangun Deso yang dijadikan tema pada BE 2016. Hal itu selaras dengan semangat yang digulirkan pemkab. Terlebih, pemkab sedang menggenjot berbagai program untuk menyejahterakan masyarakat. Salah satunya, one village one product. “Potensi yang ada harus dioptimalkan dengan promosi yang maksimal pula,” katanya.(zam/yog/ong)