DOK RADAR JOGJA
MANTAP SAMBUT WISATAWAN: Salah satu destinasi wisata di lereng Gunung Merapi selalu siap menyambut wisatawan. Jalur itu merupakan salah satu rute lava tour Jeep wisata. Di kawasan tersebut juga tersedia warung-warung kuliner dengan sajian khas wedang gedhang dan kopi Merapi.
SLEMAN – Gubernur DIJ Hamengku Bu-wono (HB) X kembali membuka keran informasi tentang pemanfaatan dana ke-istimewaan (danais). Tak pernah bosan, dalam setiap kesempatan turun ke lapangan, HB X hampir selalu menyampaikan hal itu. Raja Keraton Jogjakarta itu mendorong seluruh pemerintah desa di DIJ agar meng-optimalkan danais.

Ditegaskan, danais bukan hanya untuk kegiatan seni tradi-sional dan budaya. Danais juga bisa di-pergunakan untuk membangun infrastruk-tur dan fasilitas objek wisata.

“Danais jangan difokuskan untuk program-program itu (kesenian dan budaya) saja,” tuturnya disela syawalan bersama pejabat dan karyawan Pemkab Sleman di Pen-dopo Rumah Dinas Bupati kemarin (1/8).

HB X mencontohkan Kabupaten Gunung-kidul. Di kabupaten yang berpusat di Wonosari itu, danais dimanfaatkan untuk membebaskan lahan. Juga membangun tempat parkir dan melebarkan akses jalan menuju destinasi wisata. Hasilnya, kunjungan wisata ke Gunung-kidul melonjak tajam setiap akhir pecan.

Buktinya, ketika itu jalan-jalan menjadi macet sehingga wisatawan kesulitan men-cari tempat parkir.Berkaca dari Bumi Handayani, HB X berharap pengelola wisata yang ada di Sleman meniru Gunungkidul.

“Setiap sa-tuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ada harus mengatehaui hal ini. Semoga tahun depan peruntukannya bisa mening-kat,” harapnya.

Semetara itu, Lurah Kepuharjo Cang-kringan Heri Suprapto mengatakan, infor-masi yang disampaikan gubernur menjadi angin segar bagi wilayahnya. Heri mengaku, salama ini memang tak tahu persis peman-faatan danais. “Berarti KRB (kawasan rawan bencana) bisa dibangun,” katanya.

Usai dilanda erupsi pada 2010, Desa Ke-puharjo bermetamorfosis menjadi salah satu destinasi wisata Lereng Gunung Me-rapi. Tak sedikit wisatawan berkunjung ke kawasan bekas terdampak erupsi terbesar itu. Bunker, Museum Hartaku, dan Batu Alien menjadi destinasi andalannya.

“Saat ini masih banyak jalan rusak. Objek wisata yang ada juga belum mempunyai toilet yang layak. Kami berencana membangun-nya dengan danais,” ungkap Heri.

Bupati Sleman Sri Purnomo berpendapat, danais akan lebih optimal pemanfaatanya jika instansi pengelolanya dipecah. Yakni, Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan. “Supaya masing-masing bisa fokus mengelo-la anggaran,” katanya.Sri tak mempermasalahkan jika danais digunakan untuk membangun KRB. Asal-kan, untuk sarana wisata. Bukan untuk menghidupkan lokasi tersebut. Terlebih untuk hunian penduduk. “Nanti kami pikirkan tempat parkir yang memadai serta akses yang nyaman. Lava tour juga kini, kan menjadi primadona wisata di Sleman,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebuda yaan dan Pariwisata Sleman A.A. Ayu Laksmi-dewi mengatakan, instansinya mengelola danais sejak 2014. Di 2015 realisasi fisik danais mencapai 100 persen. Sesuai dengan perencanaan. Sedangkan realisasi keu-angannya baru mencapai 86 persen dari total danais sebesar Rp 7,9 miliar. Pada 2016 Sleman mengelola danais Rp 3,7 mi-liar. Hingga kemarin, realisasinya menca-pai Rp 2,1 miliar. (bhn/yog/ong)