ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
DUKA MENDALAM: Yuli Samsidah tampak berulang kali menyeka air matanya. Ibu satu anak ini tak mampu menahan kesedihan kala menceritakan kronologis kematian Sumarsih, keponakannya.
BANTUL – Ingatan Yuli Samsidah, 40, tentang keponakannya masih segar dalam pikirannya. Perempuan asal Dusun Tulong, Srihardono, Pundong ini juga masih merasa sangat berdosa atas meninggalnya keponakannya bernama Sumarsih itu. Betapa tidak, perempuan yang berprofesi sebagai pedagang sayuran di Pasar Pundong inilah yang mengantarkan Sumarsih ke RS Rachma Husada untuk berobat pada 10 Mei lalu.

Sebelum akhirnya Sumarsih dinyatakan meninggal dunia keesokan harinya. “Wong dia dari kecil sama saya terus,” tutur Yuli di depan sejumlah anggota Komisi D di gedung DPRD Bantul, kemarin (1/8).

Ibu satu anak ini bercerita keponakannya minta diantar berobat ke RS Rachmad Husada sekitar pukul 17.00 pada 10 Mei lalu. Kala itu, Sumarsih merasa kondisi kesehatannya tak cukup fit. Dokter RS mendiagnosa Sumarsih mengalami sakit mag. Dokter juga menyarankan agar Sumarsih menjalani rawat inap di ruang VIP kelas I. “Katanya, biar cepat sembuh,” lanjutnya.

Karena mengantarkan, Yuli pun bertanggung jawab dengan menginap di RS untuk menjaga keponakannya itu. Menurutnya, dia sempat pulang ke rumah untuk mandi dan ganti pakaian.

Saat ditinggalkan, Sumarsih hanya dijaga perawat. Kejanggalan pun mulai muncul. Sekitar pukul 08.15 Yuli sempat berkomunikasi dengan Sumarsih. Salah satu isinya, Sumarsih minta dibawakan seragam kerja. Mengingat, sekitar pukul 09.00 Sumarsih ingin berangkat kerja ke wilayah Sleman.

Hanya, sekitar 20 menit kemudian keadaan berubah total. Sumarsih yang sempat bisa mengirimkan SMS tiba-tiba dinyatakan telah meregang nyawa. “RS telepon, saya diminta datang secepatnya. Katanya penting,” tuturnya.

Setibanya di RS, kondisi Sumarsih telah terbungkus rapat dengan kain warna hijau. Untuk mengetahui penyebabnya, Yuli meminta klarifikasi kepada dokter dan perawat. Tanpa banyak bicara mereka hanya memberikan surat keterangan kematian.

Anehnya, dalam surat ini tidak disebutkan penyebab kematiannya. Kolom keterangan penyebab kematian dibiarkan kosong. Yuli juga dilarang membuka kain yang menutupi wajah keponakannya. “Sudah nasibnya,” ucap Yuli menirukan ucapan salah satu tenaga medis RS.

Setelah didesak berulang kali, RS akhirnya buka suara bahwa Sumarsih meninggal dunia karena mengalami serangan jantung. Sumarsih juga sempat diberikan obat jantung melalui saluran infus. Namun, RS tidak bersedia memberikan hasil diagnosa yang menyatakan Sumarsih mengidap penyakit jantung. Begitu pula dengan hasil cek darah terakhir.

“Ketika berada di bagian administrasi saya tidak diperbolehkan membayar,” jelasnya
Kecurigaan Yuli memuncak kala melihat wajah Sumarsih. Saat jenazah Yuli dibuka olej keluarga sesampainya di rumah, ternyata mulut dan hidung Sumarsih mengeluarkan busa. Seluruh tubuhnya juga mengeluarkan keringat deras. “Matanya juga masih mengeluarkan iluh (air mata),” bebernya
Yuli menambahkan, keluarga sudah melaporkan dugaan malapraktik ini ke Polda DIJ pertengahan Mei lalu. Sejumlah anggota keluarga pernah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. “Saya nggak minta ganti rugi atau apa. Saya cuma ingin dibuka apa penyebabnya,” tandas Yuli.

Ketua Komisi D DPRD Bantul Enggar Suryo Jatmiko berjanji bakal mengecek kebenaran informasi ini. Dengan melakukan tinjauan ke RS Rachma Husada. Kendati begitu, Komisi D tidak akan mengintervensi proses hukum yang berjalan di Polda DIJ. “Justru kami akan mendorongnya,” tegasnya.

Terpisah, Kuasa Hukum RS Rachma Husada Tri Suyud Nusanto membantah adanya dugaan malapraktik. Dia menegaskan, pasien di rumah sakit swasta yang berada di Jalan Parangtritis tersebut telah ditangani sesuai prosedur. “Dokter ahli yang menangani akan menyampaikan penjelasannya,” ucapnya singkat. (zam/ila/ong)