Tugas Pertama Belajar Mengoperasikan HT, Siap Siaga 24 Jam Nonstop

Sepak terjang Kunto Riyadi dalam bidang penanggulangan bencana memang belum terbukti. Namun, berbekal kepiawaiannya mengelola perencanaan pembangunan Sleman, dia dipercaya menggantikan kursi Julisetiono Dwi Wasito yang memasuki masa pensiun. Untuk sementara, Kunto didaulat sebagai Plt kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

BAHANA, Sleman
Munculnya nama Kunto Riyadi sebagai sosok yang ditunjuk bupati Sleman mengisi pos kebencanaan sungguh diluar dugaan. Bagaimana tidak, bekas sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) yang sempat mencicipi ruangan di lantai dua, pojok sisi selatan gedung sekretariat daerah sebagai staf ahli bupati bidang pembangunan itu sebelumnya disebut-sebut bakal kembali ke Bappeda. Tentu saja setelah mengalami kenaikan pangkat. Kunto digadang-gadang menggantikan jabatan yang segera akan ditinggalkan drg Intriati Yudhatiningsih itu. Kecuali, Bupati Sleman Sri Purnomo memperpanjang masa jabatan bekas kepala Dinas Kesehatan kelahiran 4 September 1958 tersebut.

Bisa jadi jabatan Plt kepala pelaksana BPBD hanya sebagai batu loncatan untuk pijakan selanjutnya. Melihat kiprah Kunto, bukan tidak mungkin jabatan kepala Bappeda tetap bakal disandangnya di waktu mendatang. Semua tergantung keputusan bupati yang menjabat.

Tugas berat ada di pundak pemilik gelar Master of Public Policy and Management (MPPM) itu. Apalagi, wilayah Sleman terkenal sebagai sabuk bencana. Mulai erupsi Gunung Merapi, tanah longsor di Prambanan, hingga banjir dan angin kencang yang hampir merata di seluruh wilayah Sleman. Terlebih, selama dikomandoi oleh Julisetiono, BPBD Sleman cukup disegani masyarakat. Bahkan, selama 1.131 hari ditangani Julisetiono, BPBD Sleman pernah ditahbiskan sebagai lembaga penanggulangan bencana terbaik se-Jawa dan Bali. BPBD Sleman menyisihkan lebih dari 400 BPBD di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Serah terima handy talky (HT) menjadi simbol perpindahan kewenangan dari Julisetiono kepada Kunto Riyadi. HT mungil itu ibarat tongkat komando bagi kalangan militer. “HT ini sebagai simbol agar Pak Kunto siaga selama 24 jam,” ujar Juli disambut aplaus hadirin disela serah terima jabatan kepala BPBD di Aula Kantor Bappeda kemarin (1/8).

Tak hanya Juliseiono yang menaruh harapan besar pada Kunto. Ratusan relawan dan masyarakat juga menanti kepiawaian pria yang sehari-hari tampil elegan itu.

Selain HT, Julisetiono juga menyerahan plakat penghargaan BPBD kepada Kunto. “Ini sebagai pemicu semangat. Penghargaan ini hasil kerja keras seluruh komunitas dan relawan bencana di Sleman,” ungkap Julisetiono yang menjabat kepala pelaksana BPBD sejak 11 Juni 2013.

Usai menyerahkan semua kewenangan kepada penggantinya, Julisetiono lantas diarak ke kediamannya di Perumnas Condongcatur, Depok menggunakan mobil pemadam kebakaran.

Sebagai pejabat baru BPBD Sleman, Kunto sadar diri betapa besar tanggung jawab dan kewajibannya. Dia pun mengaku butuh banyak belajar dan masukan dari para pendahulunya. Kunto juga merasa masih asing dengan bidang kebencanaan.

“Saya juga masih harus belajar cara menggunakan HT,” candanya.

Dia berharap, di awal-awal dia menjabat Sleman tetap aman tidak ada bencana. Namun diakuinya, angin kencang dan hujan tetap menjadi ancaman serius di masa-masa sekarang. “Angin ribut salah satu bencana yang sulit di prediksi. Setelah resmi menjabat, saya harus siap 24 jam untuk melakukan koordinasi,” ujar sosok kelahiran 15 Februari 1964 itu.(yog/ong)