KUSNO S. UTOMO/RADAR JOGJA
KECIL MENANAM, DEWASA MEMANEN: Mateus Brotosugondo meraih Kalpataru kategori pengabdi lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Hijaukan Sekolah, Ajak Siswa Tanam Jati Buat Modal Skripsi

Di tangan Mateus Brotosugondo sekolah yang dulunya kering berubah menjadi hijau. Burung yang nyaris punah juga berhasil diselamatkan. Kiprahnya selama 29 tahun itu mendapatkan pengakuan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru saja menganugerahi Kalpataru kategori pengabdi lingkungan. Bagaimana keseharian mantan buruh bangunan yang sekarang menjadi guru SD itu dalam menyelamatkan lingkungan?
KUSNO S. UTOMO, Jogja
WAJAH Broto, begitu dia akrab disapa, terlihat ceria. Dia tampak antusias bercerita soal pengalamannya mengubah lingkungan yang gersang menjadi teduh. Semua berkat keseriusan Broto mengajak murid-muridnya menanam banyak pohon di sekitar sekolah.

Itulah perjalanan Broto sebagai pengajar di SD Gombang 2 Ponjong, Gunungkidul. Dia menjadi guru sejak 1987 silam. Sebelum menjadi pendidik, selama lima tahun bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta.

Bekerja di ibu kota ternyata tak membuat Broto merasa betah. Nalurinya sebagai seorang pendidik memanggilnya harus pulang kampung. Dia memulai hidup baru sebagai guru. Sekolah tempatnya mengajar berjarak kurang lebih 25 km dari rumahnya.

SD Gembong 2 Ponjong berada di pelosok. Sedangkan Broto tinggal di Dusun Tawarsari RT 12 RW 19, Wonosari, Gunungkidul. Lokasinya ada di pusat kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul.

Di sekeliling SD Gombang 2 terdapat perbukitan yang kering kerontang. Menyadari itu, Broto ingin melakukan perubahan. “Saya ajak siswa untuk menanam pohon. Satu siswa menanam enam batang pohon,” ungkap Broto saat ditemui di sela peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) tingkat DIJ di Imogiri belum lama ini.

Budaya menanam pohon itu dilakukan sejak siswa kelas 1. Tiap tahun pohon yang ditanam terus bertambah. Dari mulai pohon bunga di taman, berlanjut menanam buah-buahan, dan terakhir pohon endemic. Sekolah tempatnya mengajar beberapa tahun kemudian berubah. “Kini menjadi sekolah berwawasan lingkungan,” ungkapnya bangga.

Lokasi sekolah yang dihijaukan itu seluas 5.000 meter persegi. Kepada siswa-siswanya, Broto bukan hanya meminta mereka menanam pohon di seputaran sekolah. Tapi, murid SD Gembong 2 juga diminta melakukan hal yang sama di rumah atau ladang milik orang tua mereka. Pohon yang ditanam sebagian besar adalah jati. Rata-rata tiap siswa kelas 6 memiliki 60 pohon jati. Semua pohon jati itu ditanam sejak mereka duduk di kelas satu.

“Pohon jati itu bisa menjadi modal membuat skripsi. Kami juga punya ungkapan lain. Menanam pohon jabon untuk beli tronton,” ceritanya.

Selain lingkungan sekolah, Broto juga sukses menghijaukan Bukit Singget, Ponjong seluas 7.500 meter persegi. Di bukit itu ditanam 500 batang jati, 500 pohon mahoni, dan sebanyak 600 batang pohon akasia. Sejumlah burung yang nyaris punah seperti ciblek dan srikatan berhasil diselamatkan. Penghijauan juga terlihat di Telaga Ngejek dan Gombang. Penghijauan telaga Ngrejek dan Gombang seluas 1 hektare. Jenis pohon yang ditanam antara lain beringin, munggur, angsana, keben dan gayam. Semua berkat tangan dingin Broto.

Dia juga menggulirkan program “Kecil Menanam, Dewasa Memanen” yang menyabet penghargaan Adiwiyata. Di SD Gembong 2 juga ditanami aneka pohon langka seperti damar, prana jiwa, kunto bimo, jamblang, dan kepel.

Pria berumur 52 tahun itu juga melakukan pembuatan biopori 10 titik dan sumur resapan lima titik di sekolahnya. Kini, semua pengalamannya itu dituangkan dengan menyusun kurikulum berbasis lingkungan hidup. Materinya tentang penyelamatan sampah atau barang bekas di sekolah dijadikan sebagai produk pembelajaran.

Setelah hampir tiga dasawarsa mengabdi sebagai guru, Broto mendapatkan promosi sebagai kepala sekolah. Sejak lima bulan lalu, dia dipercaya menjabat kepala SD Negeri Kenteng 2 Ponjong. “Jaraknya sekitar 7 km dari SD Negeri Gembong 2,” tuturnya. (ila/ong)