GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
ATRAKSI: Penerjun payung gabungan dari Kopassus Grup 3 Sandi Yudha, Kostrad, dan Paskhas, serta atlet terjun payung FASI serta alumni Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahakarta UGM beratraksi saat memeriahkan penerimaan mahasiswa baru, kemarin (1/8).
JOGJA – Dari tiga puluh penerjun payung yang mendarat di Lapangan Graha Sabha Pramana UGM, ada satu yang membawa bendera merah putih ukuran besar. Penerjun yang turun pada gelombang terakhir ini mendarat dengan mulus di tengah lapangan. Dia adalah Serda Nelson Beteyob.

Dia bersama puluhan anggota Kostrad, Paskhas, dan Kopassus Grup 3 Sandi Yudha, Cijantung, Jakarta Timur mengadakan penerjunan dalam rangka upacara pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru UGM. Nelson mengaku, bangga dipilih menjadi pembawa bendera merah putih.

“Kalau biasanya kan pengibaran merah putih di atas tiang, ini dari udara ke bawah dan ternyata bisa,” katanya kepada Radar Jogja, Senin (1/8).

Nelson mengatakan, dia berlatih terjun payung sejak 1999 saat masih di Kopasus Grup 2, Kandang Menjangan Solo. Setelah itu, dia berlatih di pusat latihan angkatan darat. Latihan tersebut rutin dilakukan sebagai persiapan latihan penerjunan di dalam dan luar negeri.

“Sempat ada sedikit beban, tapi dapat diatasi dengan latihan, disiplin dan yakin dengan diri sendiri,” ungkapnya.

Ditanyakan mengenai penerjunan bekerja sama dengan kesatuan lainnya? Nelson mengaku memang ada sedikit kesulitan. Sebab tim dari Kopasus memiliki standar tersendiri. Tapi, secara umum semua persiapannya sama. “Ada gladi bersih hari sebelumnya untuk persiapan ini. Ada strategi dengan teman-teman tim lain,” ujarnya.

Pria yang mengaku bangga sebagai putra Papua ini mengatakan, olahraga terjun payung adalah hal yang menyenangkan. Sensasi setelah melompat dari pesawat susah untuk dijelaskan. Bahkan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Menurutnya, semuanya campur aduk jadi satu.

Rame seperti permen, campur-campur. Kadang sedikit takut, kalau dirasakan seperti burung, tapi tidak ada sayap,” tuturnya.

Kepada para mahasiswa UGM yang ingin mencoba olahraga terjun payung, menurutnya, pasti bisa asalkan ada kemauan dan rajin berlatih. Selain itu, olahraga terjun payung juga bisa memunculkan semangat bela negara. “Saya bisa terbangkan merah putih di Malaysia. Itu waktu lomba antarangkatan di Malaysia, tepatnya di Kuala Terengganu. Itu sebuah kebanggan,” tandasnya.

Sementara itu, Pembukaan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) UGM 2016 diikuti oleh 9.250 mahasiswa baru. PPSMB kali ini bertajuk menyiapkan Pemimpin Muda yang Cerdas, Inspiratif, Berbudaya, dan bermartabat. (riz/ila/ong)