Adi Daya Perdana/Radar Jogja
PROTES PENAMBANGAN: Warga lereng Merapi menolak penambangan yang merusak lingkungan dengan menggelar aksi damai di perempatan Sayangan, Kecamatan Muntilan, kemarin (1/8).
MUNGKID – Penambangam pasir yang merusak lingkungan kawasan Merapi terus mendapat pertentangan. Sekitar 400 warga dari berbagai elemen turun ke jalan menolak aktivitas penambangan yang semena-mena. Warga menggelar aksi damai di perempatan Sayangan, Kecamatan Muntilan.

Mereka menggelar orasi di perempatan jalan itu sembari menenteng berbagai poster menolak aktivitas tambang. Berbagai poster itu, diantaranya, Apakah mata kalian buta wahai penguasa, Pejabat aparat bandit penambangan, Alat berat bergerak petani sekarat, dan lain sebagainya.

Mereka khawatir jika penambangan pasir berlangsung tanpa aturan, warga yang merasakan dampaknya. “Kami ingin agar alam tetap lestari. Jika ada penambangan, warga khawatir sumber mata air akan hilang,” ujar Nur Salim, seorang warga dalam orasinya kemarin (1/8).

Warga yang menggelar aksi ini merupakan Komunitas Jogo Merapi. Selain petani, massa juga terdiri atas berbagai organisasi masyarakat dan keagamaan. Warga merasa dengan adanya penambangan, hasil pertanian mengalami penurunan.

“Selama ini petani yang selalu merasakan dampaknya. Hasil pertanian mengalami gagal panen. Kualitas air di Merapi semakin buruk. Panen padi kini terus menurun hampir separo lebih,” ungkapnya.

Salah seorang Koordinator Jogo Merapi Edi Sulistiyono menjelaskan, dengan adanya kegiatan tambang semena-mena para petani mengeluh. Mereka mau menyemprot tanaman, tidak ada air bersih. Tanah menjadi bantat dan tidak subur. “Hasil pertanian semakin lama semakin buruk,” jelasnya.

Mereka mendesak kepada aparat untuk menghentikan upaya perusakan alam. Wilayah pertanian dan resapan air jangan dirusak oleh kegiatan penambangan. “Banyak mata air di wilayah Merapi mati. Jangka panjang, bisa saja untuk kebutuhan sehari-hari air semakin sulit,” ujarnya.

Koordinator aksi Muh Hendrat mengatakan, penambangan yang dilakukan telah merusak lingkungan. Kendati demikian, tidak ada tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. “Kami hanya minta aparat penegak hukum tegas dalam menindak para penambang yang telah merusak alam,” pintanya.

Akibat penambangan yang dilakukan ini, lingkungan di lereng Merapi rusak. Bahkan kini para petani mulai kesulitan mendapatkan air untuk sekadar mengairi lahan pertanian miliknya. Diduga sulitnya mendapatkan air itu karena mengeringnya sumber mata air.

“Pada saat ini belum musim kemarau saja sudah sulit mendapatkan air. Kami khawatir pada lima tahun mendatang, bisa-bisa untuk kebutuhan sehari-hari air harus membeli,” kata dia.

Usai berorasi, massa kemudian membubarkan diri dengan tertib. Mereka kembali ke wilayah Kecamatan Dukun dengan mengendarai motor dan mobil bak terbuka. (ady/laz)