Setiaky/Radar Jogja
NIAT DAN TEKAD: Bardi Syafii saat bekerja sebagai juru parkir. Foto kanan, ia dan istrinya, Rumiyati, sedang mengemasi pakaian dan barang yang akan dibawa ke tanah suci.

Sisihkan Mulai Rp 500 di Kaleng, Cibiran Jadi Penyemangat

Bardi Syafii, 53, memang hanyalah tukang parkir. Penghasilan yang didapatnya tidak menentu. Dalam sehari dia membawa pulang rata-rata Rp 75 ribu per hari. Yang luar biasa, ia dan istrinya segera berangkat haji tahun ini dengan jerih payah sendiri.

RIZAL SN, Jogja
Matahari mulai muncul di ufuk timur. Bagi Badri, itulah saatnya memulai beraktivitas. Warga Cokrokusuman, JT II, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Jogja, itu mulai membuka lapak koran di Jalan Mangkubumi. Setelahnya ia membantu istrinya Rumiyati, 49, membuka warung lotek tak jauh dari lapak koran dan jualan rokoknya. Setelah itu, baru ia menjaga parkir di depan sebuah toko.

Meskipun hanya tukang parkir, Bardi ternyata menjadi salah seorang calon jamaah haji (CJH) dari Kota Jogja yang melunasi ongkos naik haji. Dia bakal berangkat ke tanah suci 17 Agustus mendatang. Perlu perjuangan ekstrakeras bagi Badri untuk mengumpulkan uang puluhan juta rupiah.

Pria asli Ponorogo yang merantau sejak tahun 1977 itu menceritakan, awalnya memiliki cita-cita untuk naik haji sekitar tahun 1985 lalu. Sejak niat itu tercetus, ia lantas bekerja keras agar bisa menabung untuk biaya naik haji bersama istrinya. Rupiah demi rupiah dia kumpulkan di dalam sebuah kaleng. Saat itu ia menceritakan, harga koran berkisar Rp 100- Rp 200. Ia menyisihkan penghasilannya dari berjualan koran setiap hari. “Ndak tentu Mas. Kadang Rp 500, kalau sedang ada rezeki ya Rp 1.000 setiap hari,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (2/8).

Ia dan istri bekerja keras dari pagi hingga sore. Mereka pulang ke rumah sekitar pukul 16.00. Selain menabung untuk biaya haji, ia juga harus mencukupi kebutuhan istri dan dua anaknya. Kerja kerasnya terbayar lunas saat kedua anaknya telah lulus sarjana.

Anak pertamanya, Yahya Husen Khorullah, 30, telah lulus dari kampusnya di UII dan anak keduanya Wiyan Ahmad Waislam, 26, juga telah menjadi sarjana dari Universitas Sanata Dharma (USD). “Anak-anak harus tetap sekolah, demi masa depan mereka. Saya tidak pernah memanjakan mereka. Kalau perlu apa-apa usaha sendiri,” tutur pria yang juga pernah menjadi petinju amatir ini.

Dalam mendidik anak, ia memang cukup keras dan disiplin. Ia mengaku anaknya tidak pernah dibelikan sepeda motor atau ponsel. Jika mereka ingin punya, maka dengan bekerja dan rajin dalam belajar. “Mereka sudah bekerja, beli motor sendiri sekarang,” ungkapnya.

Niatnya untuk naik haji memang sudah bulat. Karena itu ia bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun beberapa temannya pernah mencibir niatnya itu. “Ditanya, kamu dan istrimu kerja siang malam uangnya itu mau buat apa? Ya saya bilang saya mau naik haji. Mereka tertawa saja. Tetapi saya sudah niat, terserah orang mau bilang apa,” tandasnya.

Setelah sebelumnya membuka lapak koran, pada 2001 dia mulai menjadi tukang parkir di Jalan Mangkubumi. Dalam sehari ia mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp 75 ribu. Dari situ dia menyisihkan antara Rp 5 ribu-Rp 10 ribu untuk ditabung.

Namun pada 2005, ia mengakui pernah mengingkari janjinya. Uang Rp 40 juta yang sudah dikumpulkannya sempat digulirkan untuk bisnis properti. Sayangnya, bisnis itu tidak berjalan mulus. Kondisinya jatuh bangun dan dia harus memulai lagi mengumpulkan uang untuk biaya haji.

“Proyek rehab rumah dan jual beli tanah. Ternyata bermasalah. Saat itu saya bertekad, kalau uang sudah terkumpul, saya akan langsung mendaftar haji,” tegasnya.

Setelah kedua anaknya lulus kuliah, ia lalu mendaftar haji pada 2010. Setelah melunasi biaya haji, ia dipastikan akan berangkat pada 17 Agustus nanti. Ia mengungkapkan, telah mendapatkan pembekalan dan manasik di asrama haji.

“Ya senang, terharu akhirnya akan bisa berangkat haji. Haji itu panggilan, yang uangnya banyak aja banyak yang belum daftar. Kalau ada niat haji, langsung saja mendaftar dan jangan putus asa. Pasti kalau Allah sudah memilih, akan ada jalannya,” tutur Badri. (laz/ong)