BAHANA/RADAR JOGJA
PANGAN: Bupati Sleman Sri Purnomo saat panen di lahan minapadi di Kecamatan Berbah, kemarin (2/8). Petani diminta untuk melabeli beras hasil panennya dengan nama beras organik.
SLEMAN – Kerap kali hasil panen beras dari lahan minapadi dibeli ren-dah oleh pengepul. Mereka berang-gapan, beras dari lahan minapadi tidak sesedap dibandingkan dengan beras hasil panen di lahan konvensional.

Melihat kondisi ini, Bupati Sleman Sri Purnomo mengimbau kepada para petani untuk tidak terjebak akal-akalan para pengepul. Sebab apa yang dinyatakan para pengepul itu hanya sebagai senjata untuk mendapatkan harga hasil panen yang paling rendah.

“Kalau ada yang bilang anyep, itu hanya akal-akalan pembeli,” jelas Sri pada saat panen di lahan minapadi di Kecamatan Berbah, kemarin (2/8).

Menurut Sri, beras dari lahan mina-padi jauh lebih sehat dan bebas dari bahan kimiawi. Sehingga seharusnya, harga beras dari lahan minapadi tidak sama dengan beras-beras biasanya di pasaran.

“Karena beras tersebut merupakan beras organik harusnya lebih tinggi harganya. Petani harus melabeli beras hasil panennya dengan nama beras organik,” jelas Sri.Seperti diketahui, dibandingkan dengan lahan konvensional, mengelo-la lahan minapadi memang tidak mu-rah. Terutama pada awal pembuatan
Sebab, sisi lahan harus diper-dalam untuk penampu ngan air yang lebih banyak, sehingga ikan dapat hidup. Meski demikian, Sri menyebut, modal besar di awal akan memun-culkan banyak keuntungan pada masa tanam selanjutnya.

Selain mengurangi penggunaan pupuk kimia dan serangan hama, jumlah hasil panen padi di lahan minapadi selalu lebih tinggi di banding lahan biasanya.Di sisi lain, hasil panen ikan dari lahan minapadi dapat men-jadi sumber pemasukan baru bagi petani.

“Maka itu, bapak ibu harus melanjutkan perta-nian minapadi di masa-masa berikutnya,” kata Sri kepada para petani.

Ketua Kelompok Tani Mina Rukun Kunton Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah Edi Sutanto menyampaikan, memang modal awal pengelolaan minapadi ter-bilang mahal, yakni Rp 93.840.000. Meski begitu, kelompoknya ma-sih tetap diuntungkan, sebab bibit ikan sebanyak 1,2 kuintal diprediksi dapat menghasilkan tujuh kuintal ikan saat panen.

“Dari hasil panen ikan kami memperkirakan akan dapat ke-untungan Rp 116 juta. Karena harga satu kilogram ikan sekitar Rp 23 ribu,” kata Edi.

Belum lagi ditambah hasil pa-nen beras yang meningkat men-jadi 6,8 ton per hektare, dari sebelumnya hanya 6,5 ton per hektare. Sehingga jika dikalku-lasikan petani akan memperoleh laba sekitar Rp 52 juta dari hasil minapadi.Kepala Dinas Pertanian Peri-kanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman Widi Sutikno mengatakan, saat ini budidaya minapadi telah dilakukan di beberapa kecama-tan seperti Seyegan, Godean, dan Berbah.

Jika selama ini masih ada petani yang menggunakan pelet untuk pakan ikan, ke depan diharapkan petani ikan hanya diberi pakan cacing agar seluruh hasil pertanian minapadi bisa menghasilkan produk organik. Seperti diketahui, minapadi merupakan pertanian gabungan yang memanfaatkan genangan air sawah yang sedang ditanami padi sebagai kolam budidaya ikan air tawar. (bhn/ila/ong)