JOGJA – Warga Kampung Suryoputran PB 3/43, Panembahan, Kraton, Jogja, mendadak gempar. Ini setelah salah seorang warganya muncul di tengah-tengah perkampungan. Waluyo, yang pada bulan Mei lalu dikabarkan meninggal dan telah dimakamkan, tiba-tiba pulang ke rumah.

Tidak cuma warga yang terkejut dengan kemunculan Waluyo. Anak Waluyo, Anti Ristanti pun sama. Ia mengaku kaget jika bapaknya yang dikabarkan meninggal Mei tahun lalu mengetuk pintu rumah. Sebab, keluarga mengetahui jika tahun lalu sudah memakamkan jenazahnya. Kedatangan sosok ayahnya membuat keluarga itu kaget dan bingung.

“Iya kaget Mas. Ibu sempat bilang ini siapa ya? Terus kepikiran lihat kakinya ngambah lemah ga ya. Tapi memang bener itu bapak. Semua warga juga kaget bapak kok balik lagi,” ujarnya di rumahnya, kemarin (2/8).

Ia menceritakan, sejak Januari 2015 ayahnya memang meninggalkan rumah. Pihak keluarga tidak mencarinya karena pekerjaannya sebagai tukang becak di luar kota membuatnya jarang pulang. Bahkan pernah ayahnya tidak pulang selama sembilan bulan. “Waktu itu bapak saya cari karena saya mau nikah. Saya cari di pangkalan becak tak ada,” ujarnya.

Kemudian ia mendapat kabar ada korban tabrak lari pada bulan Mei di daerah Wonosari yang mirip dengan wajah ayahnya. Keluarga lalu mendatangi korban itu. Saat dilihat, korban memang sangat mirip dengan wajah ayahnya. Kemudian korban tabrak lari itu pun diakui sebagai ayahnya, karena seluruh tanda sama dengan ayahnya.

“Lihat di Facebook itu wajahnya bapak sama dengan korban tabrak lari. Mungkin dulu itu gelandangan, tapi wajahnya memang persis. Tinggi badan sama bajunya juga mirip,” tandasnya.

Anti mengatakan setelah korban dibawa ke RS Sardjito, keluarga merawat korban tersebut selama enam hari sampai akhirnya meninggal. Korban yang diduga ayahnya itu pun dimakamkan di tanah kelahirannya, Suren Kulon, Canden, Jetis Bantul.

Anak pertama Waluyo, Anik Istiarti setelah kedatangan ayahnya mengaku perasaanya campur aduk. Antara kaget dan juga senang. Ia yang baru datang sore ini pun seolah tidak percaya jika ayahnya hidup lagi. Ia mengaku memiliki firasat jika akan ada kejadian besar di keluarganya.

“Rasanya bahagia. Semalam itu anak saya nangis keras. Nangisnya kayak kucing, mungkin itu pertanda atau apa saya ndak tahu. Lalu ada kabar bapak kembali,” ungkapnya.

Ia pun menginginkan ayahnya tidak pergi lagi. Ia ingin ayahnya selalu ada di rumah. Sebab sosok ayah sangat dibutuhkan di keluarganya. “Di rumah saja, sudah sepuh, sudah bisa ganti ngerawat. Waktu itu dulu kan saya sakit. Sekarang saya sudah kerja. Jadi bisa jaga warung,” ujarnya.

Waluyo, 62, mengatakan, selama setahunan ini ia berada di Semarang. Sekitar jam delapan pagi kemarin (2/8) diantar manager hotel di daerah Dagen yang kebetulan kenal dengannya. “Ketemu di Semarang terus diantar pulang,” ujarnya.

Di Semarang ia mengaku tinggal di Pusponjolo, Gang III, Semarang. Dia biasa tidur di emperan toko. Ia mengaku mendapatkan kerja di tempat itu.

Ditanya alasannya tidak pulang berbulan-bulan, ia menjawab tidak ada alasan tertentu. Ia hanya ingin pergi dari rumah dan mencari pekerjaan. Setelah kembali ke rumah, Waluyo mengatakan tidak akan pergi lagi. “Sembilan bulan nggak pulang pernah, biasa saja,” tuturnya. (riz/laz)