TEGANG : Perwakilan kampus STAIYO Wonosari menemui mahasiswa yang menggelar aski unjuk rasa.
GUNUNGKIDUL –Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAIYO) Kepek, Wonosari menggelar aksi unjuk rasa, Selasa (2/8). Demontrasi dilatarbelakangi rasa kesal terhadap salah satu dosen yang dinilai tidak memiliki kemampuan mengajar.

Penyampaian aspirasi mahasiswa STAIYO ini terlihat sudah direncanakan jauh hari. Sejumlah spanduk yang terbentang tidak hanya coretan, namun sudah dalam bentuk sablon dalam sepanduk panjang.

Mereka menyampaikan orasi di depan ruang dosen. Sambil membakar ban bekas, para mahasiswa berteriak minta agar aspirasi segera mendapat tanggapan dari rektor maupun dosen. “Dosen tidak kompeten istirahat saja,” teriak para demonstran, di kampus STAIYO.

Sekitar satu jam berorasi, akhirnya pihak kampus mau menemui mahasiswa. Dengan catatan, hanya perwakilan dan tidak boleh semua. Akhirnya, perwakilan mahasiswa diperkenankan masuk dan berdiskusi dengan pihak kampus.

Koordinator aksi demo Aziz Abdulloh mengatakan, aksi demo dilakukan bukan tanpa sebab. Selama ini mereka berupaya menyampaikan pendapat dan memberikan masukan. Namun, semua itu tidak diindahkan.

“Aksi ini dilakukan lantaran para mahasiswa merasa ada stagnasi dalam kebijakan para pengelola kampus. Kebijakan yang buruk membuat STAIYO semakin ditinggalkan mahasiswa baru,” kata Aziz Abdulloh.

Buktinya, tahun ini STAIYO hanya mendapatkan 55 mahasiswa. Karena itu, mahasiswa yang tergabung dalam mahasswa pecinta STAIYO menuntut ada perbaikan sistem dan managemen kampus.

Selain itu, tata kurikulum kampus juga dianggap acak-acakan, sehingga perlu dirombak. “Materi kuliah diulang-ulang dari semester 6 sampai semester 8,” sesalnya.

Tidak hanya itu, perwakilan mahasiswa yang lain juga menyebut, ada salah satu dosen tidak berkompeten di bidangnya. Misal, mereka mengajarkan materi komputer. Namun yang dibahas hanya seputar MS Word dan Excel.

“Ini kan lucu, materi anak SMP diajarkan ke mahasiswa dan berulang-ulang materinya itu terus,” ucap seorang mahasiswi.

Rektor STAIYO Wonosari Mardiyo mengatakan, aksi unjuk rasa ini menjadi momen awal berbenah. Menurut Mardiyo, selama ini mahasiswa belum pernah menyampaikan aspirasi dalam bentuk tertulis, sehingga kurang terkomunikasikan. “Kami akan menindaklanjuti aspirasi para mahasiswa,” janji Mardiyo.(gun/hes)