GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
KURANGI VOLUME SAMPAH: Pengelolaan sampah masih menjadi persoalan. Pemprov DIJ saat ini tengah mengkaji timbunan sampah di TPA Piyungan untuk diubah menjadi energi listrik.
JOGJA – Sampah sebagai sumber masalah kini mulai dipertimbangkan untuk berubah. Bahkan diharapkan menjadi berkah bagi warga. Pemprov DIJ saat ini tengah mengkaji timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan untuk diubah menjadi energi listrik.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X usai syawalan di Balai Kota Jogja mengungkapkan, pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan Swedia. Negara yang berada di Skandinavia tersebut merupakan pengolah sampah terbaik di dunia. “Dari Sweden ya, teknologinya yang paling baik,” ujar HB X, kemarin (2/8).

HB X menjelaskan, teknologi pengolahan sampah di Swedia memang maju pesat. Teknologi di sana menggunakan insinerasi atau pembakaran sampah. Teknologi tersebut mengolah sampah menjadi abu. Kemudian, gas sisa hasil pembakaran dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer. Sedangkan energi panasnya dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik.

Teknologi yang dinamai waste-to-energy (WtE) ini sudah banyak diterapkan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat. WtE ini bisa mengurangi volume sampah hingga 96 persen tergantung komposisi dan derajat recovery sampah.

Teknologi ini, menurut HB X, paling tepat diterapkan di TPA Piyungan. Sebab, tak membutuhkan lahan luas untuk mengolah sampah tersebut menjadi energi listrik. “Kalau TPA Piyungan sebenarnya sudah tidak layak. Harus dipindah (untuk menerapkan sanitary landfill). Tapi itu (mencari lahan baru) tidak mudah,” katanya.

Dia mengungkapkan, sebenarnya ada dua negara yang sudah menawarkan teknologi pengolahan sampah ke Pemprov DIJ. Yakni Perancis dan Jerman yang sudah sampai ke besaran kebutuhan anggaran.

“Tapi terlalu besar. Kami tidak kuat (anggarannya),” jelasnya tanpa menyebut nilai besaran kebutuhan anggaran.

Teknologi dari kedua negara di Eropa tersebut, lanjut HB X, juga tak terlalu bagus untuk diterapkan di TPA Piyungan. Sebab, teknologi Perancis dan Jerman hanya mengolah sampah menjadi kompos. “Sedangkan di Piyungan banyak plastik yang bercampur dengan sampah organik,” tandasnya.

Kerja sama pengolahan sampah dengan Swedia ini juga sudah dilakukan Presiden Joko Widodo. Presiden telah memilih tujuh kota sebagai pilot project yakni Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang, Surabaya, Solo, dan Makassar.

Di lain pihak, Wali Kota Haryadi Suyuti memastikan, koordinasi terus dilakukan antara Pemprov DIJ, Pemkab Sleman, dan Pemkab Bantul untuk pengelolaan sampah di TPA Piyungan. Koordinasi itu dilakukan untuk mencari skema pembiayaan nantinya.

“Ini masih menunggu kepastian dari DIJ. Jika sudah jelas, baru akan dibahas di masing-masing (pemkot dan pemkab),” kata HS, sapaannya.

Terlebih sampai saat ini, lanjut HS, produksi sampah terus bertambah di masyarakat. Sedangkan, pemanfaatan sampah juga belum maksimal. “Kami sangat setuju (penggunaan teknologi dari Swedia). Apalagi jika efektif menekan sampah,” jelasnya. (eri/ila)