Setiaky/Radar Jogja
BANTUL – Pihak Sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Jogjakarta mengapresiasi pemerintah yang tidak akan menuruti rilis Kedutaan Besar Turki mengenai desakan penutupan sekolah. Mengenai langkah hukum atau pun upaya terhadap dampak rilis itu, diserahkan sepenuhnya kepada yayasan.

Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa School Ahmad Nurani mengatakan, sekolah yang dipimpinnya hanya konsen kepada urusan pendidikan. Ia juga mengatakan, guru asing yang berasal dari Turki tidak pernah membicarakan mengenai sosok Gullen.

“Teman-teman guru dari Turki memang mengagumi Gullen sebagai inspirator, namun mereka tidak pernah membicarakan hal itu, baik kepada murid maupun guru,” katanya kepada wartawan di sekolah itu Sedayu, Bantul, kemarin (2/8).

Sementara itu perwakilan yayasan Gatot Nugroho mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menuntut kedutaan. Hal ini karena pemerintah Indonesia sudah menegaskan tidak akan menanggapi permintaan Turki melalui kedutaannya yang ada di sini.

“Saya kira untuk persoalan hukum, secara resmi disampaikan pemerintah Indonesia,” katanya. Pihaknya akan fokus melakukan pelayanan pendidikan yang sempat terganggu akibat kabar ini.

Salah seorang wali murid Sekolah Kesatuan Bangsa Emi Rohayati mengatakan, selama tiga tahun menyekolahkan anaknya ia merasa tenang. Menurutnya, pihak sekolah mendidik anaknya menjadi pribadi yang mandiri, sopan dan bergaul dengan semua kalangan.

“Siswa dari berbagai daerah dan agama. Bisa toleransi dengan agama dan suku manapun,” ungkapnya. Ia juga tidak meyakini rilis Kedutaan Besar Turki seperti yang ada di medsos.

“Dari awal berita itu muncul, saya hanya ketawa saja. Saya tahu sekolah anak saya memakai kurikulum Indonesia yang penyampaian menggunakan bahasa Inggris. Anak-anak sempat terpukul dengan berita itu. Mereka lalu pasang foto di FB, dan bilang kita tidak ada tampang teroris. Saya terenyuh,” ujarnya. (riz/laz/ong)