JOGJA – Ketakutan adanya serangan tenaga kerja asing (TKA), khususnya dari Tiongkok, belum dirasakan di DIJ. Dari data yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIJ, jumlah TKA terbesar di provinsi ini justru berasal dari Korea Selatan (Korsel).

Sekretaris Disnakertrans DIJ Sriyati mengatakan, dari data yang dimiliki, jumlah TKA di DIJ pada 2016 ini tercatat 151 orang. Naik dari jumlah TKA pada 2015 yang berjumlah 133 orang.

“Dari catatan kami, saat ini yang terbanyak memang dari Korea Selatan yakni 25 orang,” ujar Sriyati di sela pertemuan dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Gubernuran, Kepatihan, kemarin (2/8).

Menurut Sriyati, untuk TKA asal Tiongkok di DIJ tidak banyak. Yang terdaftar di Disnakertrans hanya delapan orang. Setelah Korea Selatan, jumlah TKA terbanyak selanjutnya dari Amerika Serikat, Jepang, Prancis, India, baru Tiongkok.

Ia juga meyakinkan para TKA yang bekerja di DIJ bukan merupakan pekerja rendah. Mayoritas sebagai pekerja menengah ke atas atau di level manajemen. “TKA di DIJ levelnya menengah ke atas, bukan unskill,” ujarnya.

Bidang yang digeluti juga tidak jauh dari predikat Jogja sebagai kota pendidikan. “Kebanyakan di pendidikan, guru bahasa Inggris, pembina rohani, ada juga yang di quality control,” ungkapnya.

Untuk TKA ilegal, Sriyati mengaku belum ditemukan. Dari pengawasan yang dilakukan, biasanya yang ditemukan berupa TKA yang Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) sudah habis. “Ada satu dua, setelah kami datangi biasanya terus memperpanjang IMTA,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Samsul Bachri meminta Pemprov DIJ terus melakukan pengawasan terhadap keberadaan TKA di wilayahnya. Meski dari laporan yang diterimanya, belum ada persoalan terkait TKA di DIJ.

“Saya minta untuk ditingkatkan koordinasinya, termasuk dengan masyarakat untuk mengawasi keberadaan TKA,” ujar Samsul.

Politikus dari Partai Golkar ini menambahkan, meski di DIJ belum ditemukan persoalan terkait TKA, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Terlebih kemungkinan adanya serbuan dari TKA asal Tiongkok.

Menurutnya, selama persyaratan tidak ada yang dilanggar, maka keberadaan TKA juga tidak perlu dirisaukan. “Aturannya jelas, kalau itu ilegal maka kami minta langsung dipulangkan saja,” tegasnya. (pra/laz/ong)