GUNAWAN/RADAR JOGJA ONLINE
AYO JAGA KEBERSIHAN: Salah satu suasana Pantai Selatan Gunungkidul yang terlihat asri dan nyaman.
GUNUNGKIDUL – Pengembangan sektor wisata hendaknya didukung sistem pengelolaan sampah yang memadai. Kabupaten Gunungkidul, wilayah yang kini menjadi primadona bagi pelancong, masih disibukkan dengan persoalan limbah.

Kabid Pengembangan Produk Wisata Disbubpar Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, sejak 2014 pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab kantornya. Karena itu, dia tengah membuat kajian tentang pengelolaan sampah di lokasi objek wisata.

“Kalau hanya mengandalkan TPAS di Wukirsari, Wonosari, tidak mampu, sehingga harus ada alternatif lain,” kata Hary Sukmono kemarin (4/8).

Dia mengakui, volume sampah di objek wisata terus meningkat, baik limbah yang dihasilkan dari pedagang maupun sampah kiriman dari laut. Sekitar 40 personel petugas sampah setiap hari hilir mudik mengangkat kotoran ke TPAS dengan jarak puluhan kilometer.

“Kami juga menghadapi persoalan limbah jeroan ikan. Selain merepotkan petugas, sampah basah itu juga memicu sumber bau,” ujarnya.

Selama ini pihaknya telah memberikan imbauan kepada para pedagang agar menampung jeroan ikan pada tempatnya. Limbah basah seperti itu jika dibuang sembarangan, selain menjadi sampah visual juga memicu bau busuk. “Karena itu terlebih dahulu harus disimpan dalam kantong, kemudian diambil petugas,” terangnya.

Tidak hanya jeroan ikan, sampah batok kelapa juga cukup merepotkan. Selain melimpah ruah, juga cukup berat ketika diangkut. Namun apa pun yang terjadi, kondisi sampah menjadi bagian dari tugas pokok disbubpar.

“Dengan kekuatan tiga armada dan sekitar 40-an personel, setiap pukul 08.00 pagi harus bergegas membersihkan sampah. Mereka bergerak di sepanjang pantai, mulai Pantai Nguyahan sampai Pantai Wedi Ombo,” ungkapnya. (gun/laz/ama)