SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
KETUA KAGAMA: Ganjar Pranowo saat launching dan bedah buku “Kontroversi Ganjar” sekaligus syawalan dan temu kangen bersama alumni UGM.

Pribadi Kalem yang Bisa Galak ketika Sidak

Kinerja seorang kepala daerah bisa dilihat dari rekam jejaknya. Kerja apa saja yang sudah dilakukan, kebijakan apa saja yang sudah diterbitkan, dan bagaimana dampaknya bagi warga yang dipimpinnya. Itu pula yang terangkum dalam buku “Kontroversi Ganjar” yang di-launching belum lama ini.

RIZAL SN, Sleman
GUBERNUR Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo tampak akrab bersama kawan-kawannya semasa kuliah dulu. Suasana hangat itu terlihat dalam acara syawalan dan temu kangen bersama sesama alumni UGM di W-Steak Alana Hotel, Sleman, Rabu malam (3/8). Acara itu sekaligus launching dan bedah buku “Kontroversi Ganjar”.

Beberapa tamu yang datang antara lain mantan Gubernur Jateng Mardiyanto, Bupati Purworejo
Agus Bastian, Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono, dan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo.

Ganjar mengatakan, buku itu ditulis oleh tiga orang wartawan. Mereka adalah Isdiyanto, Budiono Isman, dan Solikun. Buku itu diterbitkan untuk melihat kinerja Ganjar-Heru Sudjatmoko selama satu setengah tahun memimpin Jateng.

Tulisan yang ada di dalamnya merupakan kumpulan tulisan dari para wartawan ketika mengikutinya melakukan kerja-kerja di lapangan. Mantan anggota DPR RI itu menyebut, dalam buku setebal 325 halaman terbitan Gramedia itu berisi perjalanannya dari kanak-kanak, masa mahasiswa, sampai dengan terpilih menjadi Gubernur Jateng.

Ganjar mengungkapkan, dalam buku itu terdapat beberapa kejadian saat dia melakukan sidak. Di antaranya saat menemukan adanya pungli di jembatan timbang, ada bupati yang lamban bekerja, hingga menemukan infrastruktur jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki. “Sengaja saya minta apa yang saya ucapkan tidak perlu diedit. Biarkan seperti apa adanya,” katanya.

Dalam buku tersebut, Ganjar juga sedikit membeberkan pergulatan politik anggaran antara eksekutif dan legislatif. Buku itu disajikan agar masyarakat tidak menebak-nebak dan mengetahui dengan jelas.

“Apakah ada main antara eksekutif dan legislatif dalam memuluskan suatu program, masyarakat harus tahu. Agar tidak menebak-nebak,” ungkapnya.

Menanggapi sisi kontroversi Ganjar selama menjabat, Romo Heri Dendi mengatakan, sikap Ganjar reaktif melihat sebuah keadaan. Ketika kuliah, kata Dendi, Ganjar orangnya kalem, pandai bergaul, dan banyak terlibat dalam organisasi kampus di UGM. Berbeda dengan saat menjadi gubernur, yang cukup galak ketika memarahi petugas jaga di jembatan timbang yang kedapatan melakukan pungli.

“Pak Ganjar itu teman anak saya. Jadi saya tahu pribadi dan karakternya. Sangat berbeda saat kuliah dengan saat menjabat jadi gubernur. Mungkin itu kontroversi pertama seperti yang tertulis dalam buku,” paparnya.

Kontroversi selanjutnya diungkapkan Romo Dendi saat pemilihan Ketua Kagama. Ganjar mengalahkan petahana saat itu, Sultan Hamengku Buwono X. Proses pemilihan, katanya, sampai pada tahap voting yang sengit. “Ngarso Dalem (Sultan HB X) sampai bicara aku ora dadi ketua ya ora papa (saya tidak jadi ketua tidak masalah), tapi tidak perlu memindahkan pemilihan ketua Kagama ke Semarang,” ungkap Romo Dendi.

Sementara itu, wartawan senior Bambang Sigap Sumantri menilai, sosok Ganjar saat ini masih terbelenggu partainya. Karena itu dalam mengambil keputusan masih belum bisa total dan sesuai keinginannya.

“Tersandera partai dan pimpinan partainya. Seperti kata pengamat politik M. Yulianto di buku itu, apa yang dilakukannya tidak sejalan dengan apa yang dilakukan rakyatnya sehingga masih jauh dari tujuan Tri Sakti Bung Karno,” paparnya.

Sosok lain yang ikut menjadi pembicara adalah seniman Yati Pesek. Menurutnya, Ganjar merupakan pemimpin yang bisa memanusiakan manusia. “Saya menyuruh anak saya dan cucu saya membacakan buku Kontroversi Ganjar. Kalau bagi saya Pak Ganjar sosok pemimpin sing nguwongke wong,” tandasnya.

Yati mengaku, sosok Ganjar adalah pemimpin yang selalu merespons setiap keluhan dari warganya. Pesan singkat yang dikirim oleh warga ke ponselnya langsung dibalas. “Saya pernah SMS Pak Ganjar. Mengabarkan kalau saya mau mengadakan syukuran usia pernikahan yang ke-50 tahun. Setelah SMS, Pak Ganjar membalas ya Yu muga-muga lancar kabeh acarane (semoga lancar semua),” ungkapnya. (ila/ong)