Radar Jogja Online
IKUT SESALKAN: Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Yogyo Susaptoyono
MUNGKID – Relokasi Pasar Pahingan tidak hanya menarik perhatian warga dan para aktivis di Kota Magelang. Lembaga DPRD Kabupaten Magelang juga prihatin dengan kebijakan Pemkot Magelang tersebut. Mereka menilai, pemkot tak memahami kearifan lokal dan tidak memiliki keinginan untuk melestarikannya.

“Rencana menghilangkan Pasar Pahingan menjadi bukti kalau pemkot selaku pemegang regulasi tidak memahami makna dan pentingnya melestarikan kearifan lokal,” kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Yogyo Susaptoyono, Kamis (4/8).

Menurut Yogyo, selain menjadi ruang komunikasi bisnis masyarakat kecil, Pasar Pahingan merupakan ruang untuk masyarakat melakukan tradisi. Masyarakat beribadah karena ada pengajian di Masjid Kauman yang notabene kebanggaan masyarakat Magelang kota maupun Kabupaten Magelang.

“Janganlah menggusur tradisisi leluluhur yang sejatinya menjadi kebanggaan warga. Masyarakat justru dikorbankan atas nama Adipura,” katanya.

Menurutnya, ada ekonomi kreatif di Pasar Pahingan yang sejatinya menjadi andalan dari strategi pembangunan ekonomi bangsa ini.

Yogyo mengingatkan, dalam mengambil kebijaksanaan harus berdasar banyak pertimbangan. Jadi, jangan hanya dari satu sisi masalah ketertiban.

“Harusnya semua bangga dan menaruh apresiasi sama masyarakat yang berduyun-duyun datang ke sekitar masjid mendengarkan pengajian. Mereka berupaya mencari rezeki halal dengan berdagang. Etos mereka luar biasa, karena mereka datang dari berbagai pelosok desa di Kabupaten Magelang,” ungkapnya.(ady/hes)