GUNTUR AGA TIRTANA/radar jogja
GUGUS DEPAN: Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyematkan jaket kepada perwakilan kontingen Kwartir Daerah DIJ yang akan mengikuti Jambore Nasional Pramuka X, di Bangsal Kepatihan, Jogjakarta kemarin (5/8). Jambore digelar di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta pada 14-21 Agustus. Bawah, Peserta jamboree meneriakkan yel-yel penyemangat.
JOGJA – Pemprov DIJ mewajibkan kembali kegiatan gugus depan (Gudep) Pramuka di setiap sekolah. Namun, dengan format baru. Disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan zaman. Kebijakan itu guna menggugah semangat para siswa mengikuti Pramuka.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, mengaktifkan kembali Pramuka berarti setiap sekolah harus menghidupkan Gudep. Konsepnya, mengolaborasikan kegiatan gerakan Pramuka dengan pendidikan Pramuka. “Pendidikan Pramuka itu hanya pengenalan. Karenanya harus dipadukan dengan gerakan Pramukanya,” ujar Aji disela Pelepasan Kontingan Jambore Nasional X Tahun 2016 Kwartir Daerah Gerakan Pramuka
DIJ di Bangsal Kepatihan kemarin (5/8).

Aji menegaskan, proses pengenalan Pramuka dilakukan dengan metode mutakhir. Mengikuti tren yang ada. Misalnya, menggunakan kata-kata yang keren dan cerdas. Demikian pula teknologinya. “Kalau masih menggunakan cara lama banyak yang tidak minat,” lanjutnya.

Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIJ GKR Mangkubumi membenarkan hal tersebut. Karena itu, sudah saatnya Gudep di sekolah-sekolah dihidupkan lagi. Sekaligus menjadikannya sebagai tempat menggembleng, mengajar, dan membentuk karakter anggota Pramuka.

Dikatakan, saat ini gerakan Pramuka belum diterapkan secara menyeluruh. Menurut puteri sulung Raja Keraton Jogja itu, ada sekolah yang mewajibkan Pramuka, namun ada juga yang menjadikannya hanya sebagai kegiatan ekstrakuler. Bahkan, tak ada lagi kewajiban kemah. GKR Mangkubumi berharap, ke depan setiap sekolah wajib mengadakan kegiatan kemah.

“Kemah akan membentuk kemandirian siswa, interaktif sosial, dan banyak penggemblengan mental,” ungkapnya.

Tak cukup sampai di situ, Ka Kwasda DIJ berencana menghidupkan kembali Gudep Teritori, yang selama ini sudah ada. Seperti di Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Kegiatan Desa Pramuka di lereng Gunung Merapi itu difokuskan dalam bidang kebudayaan. “Namun selama ini pengawasan dan pendampingan dari Kwarda Gerakan Pramuka kurang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X dalam sambutannya mengingatkan kembali mengenai pidato dari ayahnya Hamengku Buwono IX. Dalam pidatonya pada Kongres Kepanduan tingkat Dunia di Tokyo 1971, Bapak Pramuka Indonesia tersebut mengatakan bahwa Pramuka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang baik. “Tetapi juga sebagai manusia pembangun yang handal,” tuturnya.

Gagasan tersebut kemudian dikembangkan oleh Gerakan Pramuka Indonesia. Karena itu dalam dunia perkemahan Indonesia disebut perkembahan Wirakarya, Pramuka melakukan pembangunan di pedesaan sebagai perwujudan Dasa Dharma Pramuka untuk menolong sesama. (pra/yog/ong)