Harnum Kurniawati/radar jogja
SINDIR PEMERINTAH: E.S Wibowo saat membacakan puisi dan geguritan di bawah Menara Bengung, Potrobangsan, Kota Magelang, kemarin (5/8). Puisi itu sebagai bentuk kritik kebijakan relokasi Pasar Pahingan dari alun-alun ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro.

Seorang Diri, Punakawan Ini Mengungkapkan Isi Hati Lewat Puisi

Dhung sudah lewat . Pahingan sekarat
Sekarang kemana selapanan bunga indah itu?
Kepadamu Diponegoro, kami mengadu. Tempo dulu telah rubuh di tangan amanah berhati batu.

HARNUM KURNIAWATI, Magelang
Itulah sepenggal kalimat puisi yang berisi luapan perasaan E.S Wibowo, budayawan yang tak henti-hentinya menyuarakan nasib para pedagang Pasar Pahingan. Agar tak direlokasi dari Alun-Alun Kota Magelang.

Wibowo membaca puisi seorang diri di bawah Menara Bengung, Potrobangsan kemarin (5/8). Usai berpuisi, dilanjutkan membaca tujuh geguritan. Diawali dengan “Lungane Tradisi”, kemudian disusul “Mbedol Oyot”, “Eling Dijanjeni”, “Magelang Nangis”, “Lintang Abyor”, “Tradisi Lunga Ngungsi”, dan “Pahing Wahing”. Disempurnakan dengan puisi bertajuk “Pahingan Diusingkan”.

“Kami prihatin dengan relokasi Pasar Pahingan. Ini perlu dipertimbangkan lagi keberadaannya,” ujarnya.

Hasil cipta penyair kenamaan Kota Getuk itu sebagai bentuk keprihatinan hilangnya makna Pasar Pahingan. Kini, sulit bagi pedagang mengais rezeki di alun-alun sambil mengikuti pengajian rutin Masjid Agung Kauman. Pemkot Magelang merelokasi pedagang ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro.

Dengan menggenakan kemeja putih dan pecis, E.S Wibowo membaca geguritan dengan penuh khidmat. Pelan namun tegas. Baginya, pasar pahingan yang hanya berlangsung tiap 35 hari sekali telah menjadi tradisi, sekaligus ritual unik masyarakat Magelang. Bukan hanya warga kota, jamaah pengajian juga hadir dari seluruh penjuru eks Karisidenan Kedu.

Hanya lewat puisi itulah penyair kelahiran Purwodadi, Grobogan, 8 Juli 1958 itu menyampaikan kritik kepada penguasa Kota Magelang. Dalam geguritannya, Wibowo mengibaratkan dirinya sebagai punakawan. Tokoh abdi dalem dalam perwayangan yang sangat setia dengan tuannya dengan penuh kasih tanpa pamrih. Punakawan, kata Wibowo, selain memberikan nasihat-nasihat baik, juga selalu mengkritisi keputusan penguasa yang kurang populis dan tidak baik.

Kepada penguasa Kota Magelang, Wibowo menaruh harapan agar kritik punakawan jangan dianggap sebagai lawan. Kritik itu semata-mata agar tidak merugikan masyarakat. Sebagai tradisi yang telah berjalan puluhan tahun, ucap Wibowo, Pasar Pahingan selayaknya dipertahankan dimana asalnya.

“Kami berharap tradisi ini tetap lestari,” ujar E.S Wibowo, yang mengaku teman satu angkatan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito saat kuliah di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Tidar Magelang. “Semoga pemerintah bisa melihat sisi baik dari Pahingan agar tidak terjadi pemindahan,” sambungnya.

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito sudah mendengar banyak kritik dari berbagai elemen. Namun, orang nomor satu di Kota Jasa itu tetap keukeuh dengan kebijakannya. Itu bukan tanpa alasan. Sigit punya pertimbangan sendiri yang ternyata erat kaitannya dengan khitah Pasar Pahingan. “Ditata agar menjadi lebih baik. Semestinya mereka yang berjualan di seputar masjid menjual buku-buku tuntutan salat, mukena, dan pakaian-pakaian muslim supaya khusyuk,” ungkapnya.

Perkembangan Pasar Pahingan memang cukup pesat. Jenis dagangan yang dijajakan pun beragam. Seiring waktu, jumlah pedagang kian memadati alun-alun.

Sigit memahami keresahan masyarakat. Karena itu, dia membuka diri bagi siapapun yang ingin beraudiensi dan berdiskusi tentang Pasar Pahingan. “Yang berjualan di sebelah masjid, ya, tidak masalah. Saya tahu itu bagian dari culture yang telah berjalan. Kami menghormati,” ungkapnya.(yog/ong)