SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
PRESTASI : MoU penetapan Kabupaten Sleman sebagai pilot project implementasi sistem aplikasi data tunggal pertanian di Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (5/8).
SLEMAN – Program smart regency yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mendapat dukungan pemerintah pusat. Ini dibuktikan dengan dijadikannya Sleman sebagai pilot project implementasi sistem aplikasi data tunggal pertanian.

Anggota Komite Ekonomi dan Industri (KEIN) Benny Pasaribu menjelaskan, Sleman ditetapkan sebagai pilot project berdasarkan rekomendasi Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil. Di Sleman, pendataan kependudukan elektronik dianggap sudah berjalan dengan baik. “Selanjutnya kami akan melakukan pendataan kepada petani secara detail. Mulai dari profil diri hingga kepemilikan lahan garapan,” jelas Benny di Rumah Dinas Bupati Sleman kemarin (5/8).

Penerapan sistem aplikasi data tunggal pertanian ini dilatarbelakangi pada fakta di mana data produksi pangan masih tercerai-berai. Perbedaan data pangan antar lembaga berpengaruh dalam mengambil kebijakan.

Seperti yang terjadi di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Ketiadaan data tunggal, membuat pengambilan kebijakan impor tidak disertai data yang pasti. “Kadang untuk persoalan impor pangan ini data di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan berbeda-beda,” katanya.

Ke depan, sistem aplikasi yang dijalankan tersebut akan dijalankan oleh masing-masing badan usaha milik desa (BUMDes). Dengan sistem seperti ini, pemerintah dapat mengetahui kondisi pangan di daerahnya. “Kalau semua data terintegrasi, pemerintah bisa melakukan kebijakan yang tepat sasaran seperti pemberian subsidi dan pengelolaan pertanian,” jelasnya.

Untuk aplikasi, pihaknya menunjuk PT Telkom dalam menyusun data integrasi logistik pangan tersebut. Pengelolaan data nantinya, tidak mengambil peran Badan Pusat Statistik (BPS) BPS meski pengelolaan data akan dilakukan by name dan by address para petani. “Dalam konten aplikasi, nanti akan diketahui luasan lahan, produk pangan, jumlah ternak, kebutuhan pupuk, dan benih,” jelasnya. (bhn/din/ama)