ILUSTRASI/RADAR JOGJA ONLINE
SLEMAN – Keberadaan industri skala menengah dan rumahan di Sleman perlu dikontrol secara ketat. Terutama dalam pengelolan limbah.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman Purwanto mengakui, saat ini belum tersedia sarana dan prasarana pengelolaan limbah industri. Selama ini industri-industri di Sleman mengelola limbah mereka secara mandiri.

“Bila pemerintah yang menyediakan sarananya, maka akan lebih terkontrol. Jangan sampai hasil pengolahan limbah industri dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak baik,” jelas Purwanto kemarin (7/8).

Di Sleman, ada dua industri tekstil yang menghasilkan limbah cair. Sementara itu untuk limbah paling banyak dihasilkan oleh industri skala rumahan seperti laundry dan industri tahu tempe.

Dia menjelaskan limbah tahu dibuang di Margoagung, Seyegan, dan dikelola oleh masyarakat. Sedangkan untuk limbah laundry, dikelola oleh pemilik laundry sendiri.

Terkait air limbah, Purwanto mengatakan, pemkab menggalakkan keberadaan instalasi pembuangan air limbah (IPAL) komunal. Keberadaan IPAL sangat membantu menurunkan kadar bakteri ecoli di Sleman. “Apalagi Sleman masuk dalam kawasan resapan, keberadaan IPAL komunal sangat penting,” jelasnya.

Salah satu IPAL komunal yang sudah dikelola dengan baik yakni IPAL komunal yang berada di Kecamatan Nganglik. Di sana IPAL komunal menjangkau 750 sambungan rumah. “Bahkan keberadaan IPAL yang ada di Dusun Mediro, Sukoharjo, ini jadi percontohan,” jelasnya. (bhn/laz/ama)