AHMAR RIYADI/RADAR JOGJA ONLINE
PAPARKAN: Psikolog UAD, Dr Siti Urbayatun saat memaparkan hasil penelitian tentang dampak bencana Merapi kepada perempuan.
JOGJA – Erupsi Gunung Merapi pada 2010 lalu ternyata tak membuat kaum perempuan yang tinggal di lereng merapi larut dalam kesedihan. Buktinya, hasil penelitian dosen UAD menyebutkan, letusan Gunung Merapi tak selamanya berdampak negative bagi kaum ibu-ibu yang tinggal di huntap (hunian tetap) di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sebaliknya, sebagian kaum perempuan merasakan dampak positif seperti dapat menumbuhkan individu yang lebih ikhlas, pasrah, dan menerima takdir yang dialaminya.

“Pascaerupsi Gunung Merapi, ibu-ibu yang tinggal di huntap menjadi lebih giat bekerja, lebih sabar, bersyukura dan tawakal kepada Tuhan,” kata Psikolog UAD, Dr Siti Urbayatun kepada Radar Jogja Online, Minggu (7/8).

Menurut Urbayatun, penelitian tentang dampak bencana alam Gunung Merapi tersebut dilakukan lima tahun pascabencana, tepatnya pada Mei hingga Juni 2015 lalu. Jumlah responden sebanyak 100 orang. Dalam penelitian ini, ia juga melibatkan rekannya yaitu Dr AM Diponegoro.

Selain menjadi lebih ikhlas, perempuan yang pernah merasakan bencana Gunung Merapi 2010 berani mengubah pola pikir atas musibah yang dialaminya. “Mereka tidak ingin larut dalam kesediaan. Mereka punya tekad dan keinginan untuk bangkit menyosong masa depan yang lebih cerah,” jelasnya.

Namun demikian, para korban bencana lama tetap memerlukan dukungan dari pemerintah. Dukungan yang diharapkan adalah adanya monitoring secara berkelanjutan. “Kehadiran pemerintah tetap diharapkan supaya mereka dapat hidup nyaman, aman, dan mendiri,” terangnya. (ama/hes)