Karena Serangan Jantung Tak Pandang Usia

Serangan jantung tidak pandang bulu. Baik usia muda maupun tua, bisa saja mendapatkan serangan jantung. Sebagai antisipasi, mulai sekarang sayangilah jantungmu dengan menerapkan pola hidup sehat dan konsumsi yang baik.

MENINGGALNYA musisi muda Mike Mohede merupakan pengingat bagi semua orang, bahwa serangan jantung tidak memandang usia. Umur berapa pun bahkan dalam kondisi fisik yang sehat bugar bisa saja terserang penyakit mematikan ini. Tentunya penting bagi semua orang mengetahui apa saja gejala hingga cara mengobatinya.

Faktor utama terjadinya serangan jantung adalah penyakit jantung koroner. Ini diakibatkan tersumbatnya pembuluh darah utama yang memasok darah ke jantung khususnya pembuluh koroner. Sumbatan ini terjadi karena adanya timbunan kolesterol berupa plak.

“Plak ini mengakibatkan penggumpalan darah yang melalui pembuluh koroner. Jika dibiarkan gumpalan ini nantinya menghambat pasokan darah dan oksigen ke jantung. Pada titik tertentu ketika sumbatan semakin besar terjadilah serangan jantung,” jelas dr Wenny Aldinarini, kemarin (6/8).

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Di antaranya, kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan berlemak, dan berat badan berlebih atau obesitas. Adapula faktor lainnya seperti diabetes, kolesterol tinggi hingga tekanan darah tinggi.

Penanganan serangan jantung harus dilakukan secepatnya. Destinasi pertama yang wajib dituju adalah rumah sakit terdekat. Sehingga wajib untuk setiap rumah memiliki nomor-nomor darurat, terutama rumah sakit di daerahnya.

“Terlambat penanganan dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Kemungkinan terparah adalah kematian pada penderita. Ragam komplikasi yang bisa terjadi juga menimbulkan penyakit lainnya,” katanya.

Komplikasi ini di antaranya terjadi gagal jantung, akibatnya jantung tidak bisa memompa darah secara efektif. Ini terjadi karena otot jantung tidak bekerja maksimal. Penyebabnya otot jantung telah rusak permanen akibat serangan jantung yang terjadi.

Selanjutnya adalah detak jantung yang tidak normal atau Aritmia. Detak jantung berdegup kencang hingga berhenti berdetak. Bisa berujung pada berhentinya fungsi jantung secara mendadak atau cardiac arrest.

Adapula syok kardiogenik, kondisi otot jantung rusak parah. Akibatnya jantung tidak bisa lagi memasok darah ke tubuh dengan baik. Hal ini menyebabkan fungsi tubuh tidak berjalan dengan baik. Terakhir jantung rupture atau retak, kondisi ketika otot, dinding, atau katup jantung sudah retak.

“Penyakit jantung sendiri bisa diobati asalkan kondisi fisik ideal. Selain itu faktor lingkungan sekitar juga memiliki pengaruh yang besar. Proses pemulihan ini juga berbeda setiap individunya,” jelasnya. (dwi/ila)