VITA WAHYU HARYANTI/radar jogja
VARIATIF: Aneka roti berbahan sourdough buatan Siane Caroline di salah satu lapak Kebun Roti. Selain kaya rasa, roti tanpa telur dan mentega itu diminati banyak pelanggan karena menyehatkan dan tak mengandung lemak. Kanan, Siane Caroline saat berada di gerai Kebun Roti.

Olah Ragi Zaman Mesir Kuno sebagai Pengganti Telur dan Mentega

Sourdough, bahan pembuat roti ini memang cukup asing di telinga masyarakat Jogjakarta. Namun, siapa sangka Siane Caroline yang gemar makan roti ini mampu membuat roti sehat tanpa lemak berbahan Sourdough.

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja
Menjadi penjual roti memang tak pernah terbersit dalam benak Siane Caroline. Apalagi, hal itu tak segaris dengan latar belakang pendidikan Siane saat kuliah. Namun, profesi itulah yang kini menjadi mata pencaharian utamanya bersama suami. “Keuntungannya lumayanlah,” seloroh Siane saat ditemui di salah satu lapak Kebun Roti miliknya.

Siane memang hobi makan roti. Namun, dia tak suka roti berlemak yang mengandung telur. Tentu sulit bukan, menemukan roti yang tak mengandung telur. Sebab, telur selalu menjadi salah satu bahan utama produk roti.

Didorong rasa penasaran dan sulitnya menemukan roti tanpa lemak telur, Siane mencari referensi bahan untuk membuat roti sendiri. Dari situlah Siane mendapati bahan bernama sourdough sekitar empat tahun lalu. Sourdough adalah ragi liar yang dibuat dari hasil fermentasi tepung dan air. Konon, ragi yang jarang ditemukan di masyarakat ini sudah digunakan pada zaman mesir kuno. Selain cukup asing bagi masyarakat, membuat roti dari sourdough memang tak mudah. “Harus telaten seperti mengurus makhluk hidup,” ujar Siane.

Sourdough dipercaya mengandung mikroorganisme baik untuk tubuh. Tekstur roti berbahan sourdough juga lebih lembut dibanding roti dari terigu atau gandum. Karenanya, roti sourdough lebih mudah dicerna di dalam perut.

Hasil karya Siane ini pantas dicoba bagi siapapun yang sedang berdiet. Roti buatan alumnus Ilmu Komunikasi , Universitas Atmajaya, Jogjakarta itu dijamin sehat karena tak mengandung lemak. Beda dengan roti kebanyakan yang dijajakan di toko-toko atau swalayan. Bahkan, roti gandum yang biasa menjadi rujukan bagi orang diet pun masih mengandung lemak, meskipun hanya dua atau tiga persen dari total berat produknya. Karenanya, roti buatan Siane ini cocok bagi penderita diabetes atau pengidap kolesterol tinggi.

Sourdough memang bukan satu-satunya bahan baku dalam roti sehat ini. Siane tetap memakai tepung sorgum sebagai bahan utama. Untuk pemanis dipilihnya gula semut. Campuran minyak kelapa diperlukan untuk meliatkan adonan. Sourdough hanya sebagian bahan pengganti mentega dan telur.

Siane belajar membuat roti sourdough secara otodidak. Keahliannya makin terasah setelah bertemu komunitas yang bisa menyediakan bahan-bahan organik untuk produk sourdough.

Sekali mencoba roti sourdough, Siane pun mulai ketagihan. Dia pun lantas terdorong untuk berbagi tips sehat kepada orang lain. Dari situlah dia lantas mendirikan Kebun Roti. “Dulu memang dikonsumsi sendiri. Lama-lama kepikiran untuk menjualnya,” ungkapnya.

Ternyata hasilnya diluar ekspektasi. Siane yang mengaku tak punya strategi khusus dalam pemasaran produk terus kebanjiran order.

Terbukti, gerai Kebun Roti yang dibuka bersama dengan Cono Gelateria di Jalan Bougenville No. 1, Selokan Mataram tak pernah sepi pengunjung.

Sebelum membuka gerai sendiri, Siane hanya menjajakan roti sourdough dari satu tempat ke tempat lain. Berpindah-pindah setiap kali ada acara pasar sehat atau event keramaian.

Dalam sehari Siane dan suaminya bisa memproduksi 10 jenis roti sourdough dari 7 kg adonan. Seperti penuturannya di awal obrolan, membuat roti sourdough butuh ketelatenan. Berdua dengan suaminya, Siane butuh waktu waktu 6 sampai 12 jam untuk sekali produksi. Seluruh proses pembuatannya pun tak mereka serahkan kepada karyawan. Alasannya, mengolah sourdough butuh tangan ahli. “Saya mau jual makanan dengan bahan terbaik untuk konsumen. Jadi harus turun tangan langsung untuk memastikan roti ini layak jual atau tidak. Intinya, saya tidak mau mengecewakan konsumen,” paparnya.

Sebagai penambah nutrisi sehat pada produknya, Siane biasa menambahkan buah bit merah, sayuran, atau buah-buahan sebagai rasa dan pewarna alami. Ide mencampur sourdough dengan bahan-bahan alami itu didapat dari sang suami yang menekuni profesi pertanian. Hasilnya, selain sehat dan bernutrisi, roti sourdough sangat variatif. Baik dari segi bentuk maupun rasa.

Roti sourdough cukup terjangkau bagi masyarakat Jogjakarta. Bahkan, untuk kantong para mahasiswa sekalipun. Di Kebun Roti, setiap produk dibanderol antara Rp 10 ribu – Rp 12 ribu. Uniknya, Siane sengaja tak menyediakan plastik atau paper bag bagi konsumen yang beli sourdough untuk dibawa pulang. Calon pembeli harus membawa kantong sendiri. Selain demi menghemat kertas, konsep jualan yang diterapkan sekaligus untuk mendukung program pemerintah dalam upaya kampanye Go Green. Agar tertib, konsumen diberi nomor antrean. “Dari konsep ini saya berharap konsumen bisa menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Tertib dan cinta lingkungan,” ujar Siane.

Menjual roti sehat tak semata-mata menjadi semangat Siane dalam berbisnis. Lewat media sosial instagram dan facebook, Siane turut mengajak masyarakat untuk konsen dengan kesehatan mereka.(yog/ong)