MAGELANG – Kota Magelang mempunyai banyak kampung organik. Banyak kampung yang memiliki usaha menanam tanaman organik yang menyehatkan. Seperti cabai, tomat, terong, seledri, loncang, dan lainnya.

Salah satu yang cukup eksis adalah Kampung Organik Pinggirejo di RW 7 Kelurahan Wates, Kota Magelang. Kampung ini mulai mengembangkan tanaman organik pada 2012, setelah sebelumnya membentuk bank sampah. Setahun kemudian, kampung ini meraih juara tiga lomba kampung organik tingkat Kota Magelang dan menerima hadiah Rp 37 juta.

Ketua Kampung Organik Pinggirejo Bakrun, 60 mengatakan, uang bantuan langsung dialokasikan untuk pengembangan. Antara lain, membeli bibit, rabuk, polibag, dan sarana-prasarana pendukung. Sampai sekarang terus berkembang dan maju.

“Awal mulanya membuat bank sampah dengan tujuan mengurangi volume sampah. Sampah diolah/didaur ulang menjadi produk bermanfaat. Seperti pupuk, barang kerajinan, dan lainnya. Kemudian berkembang tanaman organik,” kata Bakhrun di Gubug Baca, Minggu(7/9).

Ada tiga tempat yang dijadikan usaha tanaman organik. Yakni lahan pembibitan dan pengomposan, gubug baca tempat bermusyawarah, dan lahan penanaman. Tanaman ditempatkan di lahan bebas dan pot/polibag dengan tingkat produksi bervariasi.Hasil yang diperoleh bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga anggota.

“Sebagian hasil panen dijual ke masyarakat dengan harga terjangkau,” ungkapnya.

Ketua RW 07 Sukaryadi, 57, mengaku, dalam mengelola kampung organik bisa dikatakan gampang-gampang susah. Pada awal berdiri terbilang susah. Kendalanya bingung mengumpulkan pengurus yang sukarela. Apalagi, sifatnya swadaya urunan anggota untuk modal awal sebelum mendapat bantuan dari Pemkot Magelang.

“Kami terus sosialisasi dan perlahan masyarakat mulai sadar, tanaman organik tidak hanya sehat namun bernilai ekonomis. Bank sampah juga mengurangi sampah dan bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai,” terangnya.

Saat ini, kampung ini memiliki 50-an orang dari 317 kepala keluarga (KK) yang ada dalam satu RW dengan 8 RT.(nia/hes)