GUNAWAN/RADAR JOGJA
BYURRR: Mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko melakukan uji coba pengangkatan air teknologi tekanan di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, kemarin (8/8).

Diberi Ubi Rebus, Dibalas dengan Memberi Rp 3,5 Miliar

Setiap orang pasti memiliki kenangan yang tidak mudah dilupakan. Mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko juga demikian. Kenangan manis itu terjadi ketika dia menjalani Taruna Akmil akhir 1970an di Kabupaten Gunungkidul.

GUNAWAN, Gunungkidul
SEJAK memasuki usia pensiun pada 2015, selain menekuni dunia bisnis, Panglima TNI di era pemerintahan Presiden SBY tersebut juga aktif di dunia sosial. Belakangan pria yang menyandang gelar Adhi Makayasa, usai menjadi lulusan terbaik AKABRI tahun 1981, itu kerap datang ke Kabupaten Gunungkidul.

Kemarin (8/8), dia berada di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu untuk meresmikan sarana sumber mata air bagi petani. Mantan jenderal bintang empat itu menggelontorkan uang miliaran rupiah kepada warga setempat. Uang sebesar Rp 3,5 miliar digunakan untuk membuat sarana pengairan. Tujuannya, agar warga bisa mengantisipasi bencana kekeringan yang rutin tiap tahun melanda warga di sana.

“Saya ingin memberikan hadiah kepada masyarakat Gunungkidul,” kata Moeldoko usai peresmian sumber mata air buatan di Kecamatan Semanu.

Dia menjelaskan latar belakang munculnya hadiah untuk warga di Bumi Handayani. Kala itu, lanjutnya, saat masih menjadi taruna Akmil akhir 1970an bersama dengan anggota taruna lain mengikuti rute Jenderal Sudirman.

Saat itu kondisi Gunungkidul masih tandus dan gersang. Namun, dibalik kondisi itu, warganya sangat ramah. “Kami kelelahan jalan kaki melewati rumah penduduk. Lalu kami dihentikan oleh warga, kami diberi ubi rebus, ketela pohon, gula merah, dan air putih,” kenang Moeldoko.

Rupanya, pengalaman itu tidak bisa dilupakan hingga sekarang. Maka, terbesit pikiran untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya dulu. Dari hasil komunikasi dengan banyak pihak, wilayah Kecamatan Semanu yang bermasalah dengan kekeringan cukup parah. Sebagian penduduk beraktivitas sebagai petani. Jika musim kemarau datang, tentu kondisi menjadi sangat buruk.

Alhamdullillah setelah punya kesempatan saya ingin mengembalikan dharma bakti kepada masyarakat. Ada uang sebesar Rp 3, 5 miliar untuk membantu pengairan pertanian,” ucapnya.

Menggandeng tim khusus, akhirnya gagasan mencukupi kebutuhan air bagi petani lahan tandus perlahan mulai bisa diwujudkan.

Teknologi memanfaatkan air adalah dengan mengangkat sungai menggunakan tekanan. Tentu, mengangkat air dari bawah sampai ketinggian 134 meter diperlukan pipa panjang, sehingga memerlukan biaya besar. Akan tetapi persoalan itu sudah ditangani.

“Kelebihan dari sistem ini sangat efisien karena tidak menggunakan mesin, murni kekuatan arus yang dimanfaatkan, sehingga masyarakar tidak dibebani membeli bahan bakar,” ujarnya.

Selain bantuan pengairan, Moeldoko juga mendatangkan ahli nuklir untuk membantu penelitian mengenai kesuburan tanah. Tidak hanya itu, pihaknya juga menjanjikan bantuan tanaman seperti padi dan jagung.

“Kami menyiapkan tim dan sudah dilakukan uji coba, hasilnya mampu menghasilkan 9,4 ton per hektare. Kami berharap tanah kering disulap menjadi sawah,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang operator distribusi air Tohiran mengatakan, jumlah pompa air ada 21 buah dan di sebar di Desa Semanu dan Pacarejo. Air disuplai dari Kali Kepek yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk wisata Kalisuci.

Untuk mengantisipasi kekurangan air saat musim kemarau dan tidak mengganggu wisata, pompa akan dioperasikan pada malam hari. “Sistem ini membantu masyarakat, karena tahun lalu lahan pertanian di sini puso akibat kekurangan air,” kata Tohiran. (ila/ong)