GUNAWAN/RADAR JOGJA
DILATIH HUMANIS – Indonesia Scouts Challenge (ISC) 2015–2016 bersama Antangin Junior Regional Championship Kabupaten Gunungkidul diuji kekompakannya dalam melakukan pertolongan pertama di Lapangan Puslatpur Paliyan.
PENDIDIKAN akan membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang manusiawi dan berguna bagi sesama. Itu pula yang diajarkan dalam ajang Indonesia Scouts Challenge (ISC) 2015–2016 bersama Antangin Junior Regional Championship Kabupaten Gunungkidul di Lapangan Puslatpur, Paliyan 6 Agustus dan 7 Agustus lalu.

Peserta dari tingkat Penggalang (anggota Pramuka kelas IV–V SD) berkemah selama dua hari. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik. Pada hari pertama, peserta langsung mendapat tantangan beragam game dan uji kecerdasan. Di antaranya tantangan PPGD (pertolongan pertama gawat darurat), susun huruf, tantangan arah mata angin, kejelian indra manusia, dan team building (tantangan estafet).

Bagi peserta Pramuka di Gunungkidul, sebagian besar game yang dilombakan sudah ada gambaran. Namun demikian, para peserta dari masing-masing gugus depan (gudep) sebagian masih nampak gugup. Itulan sebenarnya, yang ingin diajarkan, yakni mengatasi perasaan nervous.

Sejurus kemudian, kompetisi Pramuka yang diselenggarakan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Jawa Pos Group dimulai. Dalam kegiatan ini memang menguji kecerdasan, ketangkasan, dan kerja sama tim. Kemampuan itu diujikan melalui kegiatan semi outbound, memadukan kemampuan berpikir dan fisik peserta.

Koordinator khusus ISC Jogjakarta Atika Lis Widowati mengatakan, rangkaian kegiatan dua hari pada 6 Agustus hingga 7 Agustus i di Lapangan Puslatpur Paliyan sangat padat. Anak-anak diuji melalui berbagai game. “Tujuan game adalah mengasah kecerdasan dan ketangkasan peserta,” kata Atika Lis Widowati.

Dalam kompetisi tersebut juga melatih kekompakan tim. Misalnya, dalam perlombaan pertolongan pertama gawat darurat (PPGD). Lomba ini per grup diikuti 5 anak. Setiap grup membuat simulasi penanganan patah tulang di bagian tangan. Satu anak menjadi korban, dua anak menangani korban, dan dua peserta lainnya membuat tandu. “Di sini tantangannya, dalam penanganan pertolongan pertama gawat darurat membutuhkan kerja sama,” ujarnya.

Kondisi korban yang kritis dan segera mendapatkan pertolongan, mengharuskan regu penolong bergerak cepat. Dalam game ini, setiap hanya diberikan waktu 10 menit untuk menolong korban dan membuat tandu dengan tepat dan benar. “Tidak hanya cerdas, dalam situasi demikian anak-anak dilatih untuk lebih humanis dan berguna bagi sesama. Di antara tujuan kegiatan ISC lainnya adalah, membangun kerja sama di antara peserta,” ucapnya.

Peserta ISC 2015–2016 bersama Antangin Junior Regional Championship Kabupaten Gunungkidul di Lapangan Puslatpur, Paliyan adalah anak-anak. Endingnya, kemandirian, cara membangun komunikasi, kecerdasan, dan kepercayaan diri dapat terbangun sejak dini. “Cara komunikasi tidak hanya pada teman sebaya namun juga orang yang usia di atas mereka,” terangnya.

Sebelumnya, dalam upacara penutupan ISC 2015–2016, Sekretaris Disdikpora Gunungkidul Bahron Rasyid mengatakan, hasil dari pertemuan ini adalah silaturahim. Sekaligus ajang kompetisi dan seleksi. “Inysa Allah kalian menjadi kader-kader pemimpin masa depan. Selamat untuk kalian,” kata Bahron Rasyid. (gun/din/ong)