SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
DILINDUNGI : Asisten wasit Iswah Indiarto dikawal petugas keamanan usai dikeroyok para pemain Persinga Ngawi di MIS Minggu (7/8).
SLEMAN – Asprov PSSI bergerak cepat dan langsung menggelar rapat usai pertandingan PSS Sleman vs Persinga Ngawi di Maguwoharjo International Stadium (MIS) Minggu (7/8).

Rapat itu membahas aksi pemukulan dan pengeroyokan terhadap asisten wasit yang dilakukan para pemain Persinga. Asprov PSSI juga meminta Panpel PSS menyiapkan data dan bukti tentang aksi kekerasan pemain terhadap wasit. Data dan bukti itu selanjutnya akan dilaporkan ke Panpel PT GTS.

Ketua Panpel PSS Sleman Ediyanto mengatakan, pihaknya juga diminta menyiapkan data, foto dan video rekaman kejadian. “Kami siap jika nantinya dipanggil Komdis ISC untuk menjadi saksi berdasarkan bukti yang ada,” ujarnya kepada wartawan kemarin (8/8).

Terkait tudingan bahwa Panpel PSS dan pihak keamanan kurang sigap saat peristiwa kekerasan terhadap wasit dalam laga tersebut, Ediyanto membantahnya. Menurutnya keamanan dalam stadion sudah sesuai prosedur dan standar operasional. Termasuk kesigapan petugas mengamankan asisten wasit. “Sudah kami tingkatkan jumlah personel keamanan karena laga diprediksi ketat,” jelasnya.

Namun saat kejadian pemukulan sangat cepat sekali dan tidak terduga. Sehingga sedikit terlambat untuk melerai dan menyelamatkan wasit. Prosedur kemanan memang sudah sesuai, tidak ada yang salah. “Pihak kemanan tidak boleh ada di tepi lapangan atau masuk ke dalam lapangan,” tegasnya.

Kejadian pemukulan terhadap asisten wasit Iswah terjadi pada menit ke-61. Itu setelah pengadil asal Bandung itu mengesahkan gol ketiga PSS yang dicetak Riski Novriansyah. Tendangan Riski mengenai mistar bagian atas dan memantul ke bawah. Dari rekaman pertandingan, terlihat bola telah melewati garis gawang. (riz/din/ong)