ILUSTRASI/RADAR JOGJA ONLINE
GUNUNGKIDUL – Pendidikan anak usia dini (PAUD) itu harus. Wadahnya bisa kelompok bermain, pendidik informal di rumah, penitipan anak, atau yang lain. Namun demikian jangan sampai orang tua “memaksa” anak bersekolah, karena bisa berakibat fatal terhadap perkembangan mental sang buah hati.

Hal ini disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid. Dia mengatakan, dalam persoalan ini orang tua harus paham bahwa pendidikan bagi anak itu tidak harus datang ke sekolah.

“Orang tua juga harus mempersiapkan diri untuk mendidik anak. Akan menjadi keliru jika pendidikan dimaknai orang tua dengan mengantar dan menjemput anak anak di sekolah. Tidak harus seperti itu,” kata Bahron, Selasa(9/8).

Sungguh pun ketika diajak ke sekolah atau lemaga pendidkan, kata Bahron, itu adalah salah satu fungsi-fungsi pengembagan soaial anak-anak. Tapi orang tua tidak boleh memaksakan kehendak untuk menyekolahkan anak, mengompetisikan, dan melombakan anak.

Memang dalam pendidikan anak melewati sejumlah tahapan misalnya, ketika masuk ke lembaga pendidikan hari pertama dan kedua menangis. Namun jika dalam perkembangan selanjutnya si anak masih saja menangis dan ada tanda-tanda trauma maka harus diantisipasi. “Orang tua harus meghentikan, orang tua harus menyadari,” ucapnya.

Lalu bagaimana dengan standar kemampuan mengajar para pendidik sendiri untuk mengetahui perkembangan anak, menurut Bahron, sudah ada ukuran khusus. Maka ada diklat kompetensi pendidik PAUD, sehingga tidak boleh sembarang orang berdiri di kelas mengajar.

“Jadi ada stadar latihan dasar, latihan lanjut dimiliki oleh guru pendidik yang sudah berpengalaman,” ujarnya.

Namun jika kasusnya, pendidik sudah sampai meyakini bahwa anak belum siap bersekolah, maka sebaiknya anak dididik di rumah terlebih dahulu. Karena berdasarkan pengalaman mengajar, pada umumnya anak kalau ketemu teman-teman lain itu senang.

Di bagian lain, psikiater RSUD Wonosari Ida Rochmawati mengatakan, kesiapan sekolah tidak hanya diukur berdasarkan umur atau dianggap “bisa” oleh orang tuanya tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan dan kematangan mental.

“Jangan sampai karena keinginan baik orang tuanya justru berdampak trauma pada anak. Sebaiknya sebelum anak masuk sekolah dikonsulkan ke profesional, psikolog atau psikiater untuk menilai kesiapan,” ujarnya. (gun/laz/ama)