Habisnya waktu anak di sekolah sesuai wacana dari Mendikbud Muhadjir Effendy akan berdampak interaksi dalam keluarga. Anak akan tidak berdaya sesampai di rumah, dan lebih memilih memanfaatkan waktu luangnya untuk beristirahat.

“Bisa dibayangkan anak-anak sudah pulang sore dan kelelahan. Waktu tidur mereka akan lebih awal karena kecapekan,” kata Siti, guru SMPN 33 Purworejo yang juga orang tua anak, kemarin (10/8).

Lebih awalnya anak masuk ke kamar tidur membuat waktu bersama dengan keluarga menjadi berkurang. Dampak jauhnya, anak akan merasa ada jarak dengan orang tuanya.

“Selain itu, dunia anak bagi mereka juga hilang. Dunia bermain, berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan tempat tinggal mereka hilang,” tambah Siti.

Sri Indarti, wali peserta didik menyebut wacana Mendikbud itu adalah proses pengebirian kreativitas anak. Mereka tidak bisa mengembangkan kemampuan di luar akademik mereka.

“Lebih jauh apakah memang sekolah juga sudah mampu baik dari guru maupun infrastrukturnya. Karena penambahan jam berarti ada anggaran lagi,” kata Sri Indarti yang memiliki anak yang duduk di SD dan SMP ini.

Sekolah swasta, menurut pengurus Yayasan Pembaharuan Purworejo yang mengampu SMK PN Wiwik Setyo Waspodo, juga merasa berat jika wacana itu berubah menjadi kebijakan. Dalam pandangannya, kemampuan belajar anak dalam sehari hanya lima jam.

“Dalam pengamatan kami, anak lepas dari jam 12, semangat belajar mereka menurun dratis. Bisa dibayangkan jika mereka harus belajar sampai jam 5 sore. Ini perlu diperhatikan,” tandas Wiwik. (udi/laz)