GUNTUR AGA TIRTANA/radar jogja
DIGEREBEK: Aparat Polres Kulonprogo menggerebek pabrik pembuat mi dengan campuran boraks di Dusun Karangnongko, Panggungharjo, Sewon, Bantul kemarin (10/8). Sejumlah barang bukti mi, boraks, dan peralatan disita untuk pengembangan penyelidikan.
BANTUL – Polisi berhasil membongkar home industry pembuat mi kuning mengandung boraks kemarin (10/8). Praktik pembuatan mi mengandung zat berbahaya itu terkuak dari pedagang bakso yang mangkal di Mapolres Kulonprogo.

Wg, pemilik home industry skala besar yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun itu pun harus berurusan dengan pihak berwajib. Meski praktik ilegal terbongkar, polisi belum menetapkan Wg sebagai tersangka. Hingga kemarin, pemilik usaha di RT 09 Karangnongko, Panggungharjo, Sewon itu masih berstatus sebagai saksi.

Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Djunaidi mengatakan, terbongkarnya kasus tersebut berawal dari kecurigaan anggotanya saat membeli mi bakso dari pedagang keliling langganan. Mi terasa lebih kenyal. Rasanya pun aneh. Berbeda dengan mi kuning pada umumnya.

“Dua minggu lalu kami mengambil sampel untuk diperiksa laboratorium,” jelasnya disela penggerebekan home industry kemarin.

Kecurigaan polisi terbukti. Sampel mi dipastikan mengandung boraks. Menyusul keterangan yang disampaikan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM).

Menindaklanjuti informasi ini aparat lantas melakukan pengembangan perkara ke Pasar Beringharjo, Selasa (9/10). Penetapan lokasi penyelidikan berdasarkan keterangan pedagang bakso, yang mengaku membeli mi dari pasar tradisional terbesar di Kota Jogja itu.

“Dari pedagang (mi) ternyata mi didapat dari pabrik yang terletak di Karangnongko ini,” lanjutnya.

Di lokasi pembuatan mi polisi mendapati sejumlah barang bukti. Antara lain, satu karung boraks berukuran 25 kg, sisa penjualan mi sekitar 250 kilogram, bahan baku mi, serta alat produksi. Seluruh barang bukti ini lantas diamankan ke Mapolres Kulonprogo untuk kepentingan penyidikan.

Polisi juga memasang garis polisi pada bangunan pabrik yang terletak di tengah permukiman penduduk.

“Mi ini akan kami periksa lagi untuk mencari tahu kandungannya,” perwira polisi dengan dua melati di pundak.

Dengan terbongkarnya pabrik ini, Nanang mengakui kecolongan. Sebab, hampir semua personel Polres Kulonprogo adalah pelanggan pedagang mi bakso mengandung boraks itu. “Saya sendiri pernah makan di situ,” kelakarnya.

Hingga kemarin kepolisian masih intensif melakukan pemeriksaan terhadap seluruh saksi. Termasuk Wg, pedagang bakso, pedagang mi, hingga para pekerja home industry mi yang berjumlah 11 orang.

“Boraks didapat dari toko kimia di wilayah Solo,” ungkapnya.

Kasat Resnarkoba Polres Kulonprogo AKP Andri Alam menambahkan, dari pemeriksaan awal diketahui bahwa Wg memproduksi mi sekitar 400 – 500 kilogram per hari. Mi lantas didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional besar di wilayah DIJ. Antara lain, Pasar Bringharjo, Pasar Giwangan, Pasar Prawirotaman, Pasar Bantul, dan Pasar Niten. “Dijual seharga Rp 5 ribu per kilogram,” ucapnya.

Berdasarkan pengakuan pemilik pabrik, omzet per hari yang diperoleh bisa mencapai Rp 2,5 juta.

Slamet, salah satu pekerja membenarkan ada campuran boraks. Zat kimia ini dicampurkan saat proses pembuatan adonan. Komposisinya, setiap 25 kilogram tepung bahan baku mi dicampur boraks sekitar satu sendok makan. “Disuruh mencampuri memang. Supaya (mi) lebih kenyal,” ungkap Slamet tanpa menyebut siapa yang memerintahnya.

Menurutnya, jumlah produksi mi yang dihasilkan bervariasi. Tergantung pesanan di pasaran. Produksi bisa mencapai 500 kg per hari bila ada pesanan dalam jumlah besar.

“Ada 11 pekerjanya. Semuanya dari Pracimantoro (Wonogiri),” tambah pria yang telah bekerja selama empat tahun di home industry ini.(zam/ong)