SETIAKY/RADAR JOGJA ONLINE
SENGAJA DIRUSAK: Relief jalan salib di Kompleks Sendang Sriningsih Gua Maria, Desa Gayamharjo, Prambanan, yang dirusak orang tak dikenal. Kerusakan ada di bagian kepala.
SLEMAN – Salah satu relief jalan salib di Kompleks Sendang Sriningsih Gua Maria, Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman, dirusak orang tidak bertanggung jawab. Salah satu patung di relief ke-10 yang menggambarkan saat pakaian Yesus ditanggalkan sebelum disalib, rusak di bagian kepala.

Kepala Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Desa Dalem, Sawit, Gantiwarno, Klaten, yang membawahi tempat ibadah Sendang Sriningsih FX Cahyo Handoko PR mengatakan, ia kali pertama mendengar perusakan Selasa malam sekitar pukul 19.00. Saat itu pengurus sendang memberitahukan adanya perusakan pada relief tersebut.

Menurutnya, kejadian perusakan dilakukan sengaja oleh seseorang. Sebab, menurut penuturan seorang jemaat yang mengetahui pertama kali, relief itu sebelumnya belum rusak.

“Kami punya umat pukul 10.00-11.00 yang pertama melihat saat berangkat mencari rumput lewat belum rusak. Jam tiga sore setelah pulang, lihat patung sudah retak. Disingkirkan terus lapor ke pengelola,” katanya kepada Radar Jogja, Selasa (9/8).

Ia mengatakan, rute jalan salib itu sehari-hari memang sepi. Jalan tersebut tidak banyak dilewati orang saat mengunjungi Gua Maria. Romo Koko, demikian sapaan akrabnya, juga mengatakan, sebelumnya pada saat yang hampir bersamaan, ia juga mendapat laporan kejadian serupa di tempat ibadah di Gondang, Klaten.

Yaitu perusakan dua patung Bunda Maria dan Patung Yusuf, dan kerusakan lain di tempat ibadah di Desa Mayungan, Klaten. Oleh karena itu ia meyakini jika kerusakan itu disengaja oleh seseorang.

Mendapati laporan perusakan, ia kemudian meneruskannya ke kepolisian. Malam harinya dari Polsek Gantiwarno mengutus anggotanya mengecek ke lokasi. Ditanya motif yang mungkin melatarbelakangi kejadian itu. Ia tidak bisa menduga-duga, dan menyerahkan upaya pengungkapan ke polisi.

“Kami berharap pihak keamanan dapat mengungkap kejadian ini. Kerusakan memang tidak seberapa, namun antisipasi jangan sampai membuat suasana semakin keruh. Tidak usah terpancing,” ungkapnya.

Romo Koko mengatakan, tidak pernah ada protes dan penolakan warga mengenai keberadaan Gua Bunda Maria sejak mulai dibuka pada 1936 lampau.

Pengelola Gua Maria Sriningsih St Waluyo mengatakan, setelah mendapat perintah perbaikan, kerusakan di relief itu segera diperbaiki. Beberapa bagian yang sempat tercecer dikumpulkan dan direkatkan kembali. “Diperbaiki dengan lem dan kompon gypsum,” ujarnya. (riz/laz/ama)