ILUSTRASI/RADAR JOGJA ONLINE
SLEMAN – Pemkab Sleman tidak berminat mendatangkan daging kerbau yang diimpor oleh pemerintah pusat. Hal ini didasari pada kecilnya konsumsi daging kerbau di kabupaten bermotto Sembada ini.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman Suwandi Aziz mengatakan, konsumsi daging kerbau tidak terlalu populer di Sleman. Dibanding makan daging kerbau, masyarakat lebih memilih untuk mengonsumsi ayam atau daging sapi.

“Daya konsumsinya sangat rendah, bahkan nyaris tidak ada. Bila ditawari, kami lebih baik menolak,” jelas Azis saat ditemui, Rabu (10/8).

Dia menyebut, saat ini hanya ada sekitar 500 ekor saja yang diternak oleh peternak yang berlokasi di wilayah bagian barat Sleman, seperti Moyudan dan Godean. Kerbau-kerbau itu lebih dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

‪Kalaupun ada yang untuk konsumsi, menurutnya, tingkat konsumsi daging kerbau yang tinggi justru ada di wilayah jalur pantai utara (pantura). Misalnya di Pati dan Demak yang juga kondang dengan kuliner sate kerbau.

‪Seperti diketahui, Kementerian Pertanian pada pertengahan Juli lalu membuka keran impor daging kerbau dari beberapa negara. Jumlahnya mencapai 10.000 kilogram daging yang antara lain didatangkan dari India, Spanyol, Meksiko, Australia, dan Brasil. Daging kerbau dipilih sebagai opsi lain bagi masyarakat sehubungan tingginya harga daging sapi.

Dia menyebut susutnya populasi kerbau di Sleman, selain karena tingkat konsumsi yang kecil juga disebabkan semakin berkurangnya kebutuhan masyarakat terhadap kerbau. Jika dulu kerbau digunakan petani untuk membajak sawah, saat ini mereka beralih ke traktor seiring perkembangan teknologi pertanian.

‪Bahkan keberadaan profesi jagal (penyembelih) kerbau kini sudah tiada lagi. Padahal, lanjut Suwandi, sekitar 10 tahun yang lalu masih bisa ditemukan jagal kerbau di beberapa tempat seperti di Pasar Tempel. (bhn/laz/ama)