ILUSTRASI/RADAR JOGJA ONLINE
SLEMAN – Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman Purwanto mengungkapkan, keberadaan bakteri e-coli di Sleman cukup tinggi dari ambang yang telah ditentukan. Namun, dia tidak menyebut berapa kadar e-coli dalam air di Sleman itu.

“Faktornya Sleman kawasan resapan air. Keberadaan pengolahan limbah perlu diperhatikan. Saat ini IPAL komunal sudah kami bangun di kawasan prasejahtera. Bahkan kami bekerjasama dengan pemerintah Australia,” jelasnya.

Dikatakan, keberadaan instalasi pengolah air limbah (IPAL) komunal sangat diperlukan, terutama di wilayah padat penduduk. Sebab sanitasi yang buruk berdampak pada pencemaran air.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Sleman Yonatan menjelaskan, di kawasan padat pemukiman sistem pembuangan air limbah jauh dari ideal. Seharusnya, antara sumur air bersih dengan pembuangan limbah berjarak minimal 10 meter.

“Kawasan padat penduduk di Sleman semakin sulit menerapkan standar itu. Mungkin jarak sumur dengan pembuangan limbah milik sendiri sudah sesuai, tetapi dengan punya tetangga bisa jadi lebih dekat,” jelas Yonatan saat ditemui kemarin (10/8).

Yonatan menjelaskan, dampak sanitasi yang buruk berdampak pada pencemaran air bersih oleh bakteri e-coli. Hanya sejauh mana ketercemaran bakteri e-coli di kawasan padat, pihaknya belum melakukan kajian yang lebih dalam.

Sejauh ini Dinkes memiliki data dari 2.000 sampel air yang diambil dari seluruh kecamatan di Sleman, 65 persennya sudah memenuhi syarat. “Sisanya memang tersebar, tidak hanya fokus di satu titik,” terangnya.

Dikatakan, saat ini pembuangan limbah masih mengandalkan IPAL komunal yang ada di Bantul. “Keberadaan air bersih sangat penting, sebab bakteri e-coli bisa berdampak buruk pada kesehatan seperti diare,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Mafilindati Nur Aini mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kualitas standar mutu air yang digunakan sehari-hari. Bila air digunakan untuk konsumsi, harus direbus hingga suhu 100 derajat celcius. “Bisa juga dengan pemberian klorin ke dalam air,” jelasnya. (bhn/laz/ama)