BANTUL – Bupati Bantul Suharsono ikut angkat bicara mengenai terbongkarnya home industry pembuat mi mengandung boraks di RT 09 Karangnongko, Pelemsewu, Panggungharjo. Orang nomor satu di Bumi Projotaman-sari ini mengaku kebobolan dengan keberadaan home industry skala besar yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun ini.

“Ini sebagai pelajaran. Karena kebobolan seperti itu,” jelas Suharsono di Kompleks Kantor Pengelolaan Pasar, kemarin (11/8).

Agar kejadian serupa tidak terulang, Suharsono bakal ber-koordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) ter-kait. Seperti Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi ( Disperindagkop), dan Dinas Kesehatan (Dinkes).Agar peman-tauan di lapangan lebih diinten-sifkan. Mulai pemantauan keleng-kapan perizinan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga rekomendasi dari Dinas Kesehatan.

“Semuanya nanti ter-jun ke lapangan,” tegasnya.

Sebagai pensiunan perwira me-nengah Polri, Suharsono menga-presiasi langkah Polres Kulon-progo. Dia sepakat bila pemilik home industry ditindak tegas andai terbukti bersalah.

“Harus ditindak tanpa kecuali,” tegasnya.

Kepala Disperindagkop Bantul Sulistyanta memastikan, home industry mi belum mengantongi perizinan. Sebab, disperindagkop tidak akan menerbitkan izin seperti PIRT bila UMKM tidak memenuhi persyaratan. Misal-nya, aspek higienitas.

“Kami sudah kroscek langsung ke marin,” tuturnya.

Terkait pemantauan, Sulis, sapaannya, menegaskan instansi-nya rutin melakukan pengawa-san peredaran makanan. Bahkan, dengan menggandeng Balai Besar Pengawas Obat dan Ma-kanan (BBPOM). Sasarannya adalah berbagai produk maka-nan olahan di pasar-pasar tra-disional. Tetapi, tidak semua makanan yang dijual para pe-dagang diperiksa. Hanya bebe-rapa untuk dijadikan sebagai sampel.

“Mungkin ini (mi boraks) luput dari sampel,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai laporan dari BBPOM menjadi catatan bagi Disperindagkop. Disperin-dagkop bakal menindaklanjutinya bila ada temuan makanan yang positif mengandung zat berbahaya.

“Caranya dengan melakukan pembinaan,” lanjutnya.

Tak hanya pengawasan di la-pangan, disperindagkop saat ini sedang menggiatkan pengurusan izin bagi pelaku UMKM. Baik ke-rajinan maupun makanan olahan. Sulis menyebutkan, ada 12 ribu UMKM penghasil makanan olahan yang telah mengantongi keleng-kapan perizinan. Kendati begitu, Sulis memperkirakan masih ada banyak yang belum terdaftar.

“Yang perizinannya kami pending saja ada dua ribu,” sebutnya.

Sebagaimana diketahui, Rabu (10/8) polisi berhasil membong-kar home industry pembuat mi mengandung boraks. Terbong-karnya home industry yang ter letak di RT 09 Karangnongko, Pelem-sewu, Panggungharjo, Sewon ini berawal dari kecurigaan Polres Kulonprogo.

Mi dalam bakso yang dijual di lingkungan Mapolres Kulonprogo terasa lebih kenyal. Rasanya pun aneh. Tidak seper-ti mi kuning pada umumnya.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, asal-usul mi boraks ini ternyata dari home industry milik Wagirah. Di home industry ini, polisi berhasil mendapatkan sejumlah barang bukti. Antara lain, satu karung boraks berisi 25 kilogram, sisa penjualan mi se-banyak 250 kilogram, dan alat produksi. (tom/zam/ila/ong)