Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
DEN BAGUSE DIGROPYOK: Warga Kampung Margoyasan, Gunung Ketur, Pakualaman berusaha menangkap tikus di Pasar Sentul, Kota Jogja kemarin (12/8). Lomba dalam rangka memeriahkan HUT ke-71 Kemerdekaan RI itu berhadiah televisi dan uang tunai.
JOGJA- Perayaan HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Kampung Margoyasan, Gunung Ketur, Pakualaman dikemas unik. Warga menggelar lomba gropyokan tikus di Pasar Sentul. Untuk merangsang peserta, panitia menyediakan hadiah total senilai Rp 2 juta. Paling banyak diujudkan dalam bentuk televisi. Selain itu, panitia juga memberikan hadiah uang bagi pemenang. Dihitung berdasarkan jumlah tikus yang tertangkap. “Satu tikusnya dihitung Rp 5 ribu,” ujar Ketua RW 07 Margoyasan Widodo disela gropyokan tikus kemarin (12/8).

Widodo menegaskan, gropyokan tikus yang melibatkan masyarakat kampung dan pedagang pasar tak sekadar untuk memeriahkan HUT RI. Lebih dari itu guna menekan populasi hewan pengerat yang berkeliaran di dalam pasar. Sekaligus mencegah penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui kencing tikus. Apalagi, saat ini empat warga Kota Jogja dilaporkan terjangkit leptospirosis. Bahkan, seorang diantaranya, warga Kampung Margoyasan meninggal dunia.

Warga menduga leptospirosis berasal dari tikus yang banyak berkeliaran di Pasar Sentul.

Nah, guna menekan populasi hewan pengerat tersebut warga menggelar lomba gropyokan tikus di pasar tradisional itu. “Ini sebagai bentuk kepedulian dari warga untuk menjaga lingkungan tetap sehat,” lanjutnya.

Widodo menegaskan, lomba menangkap tikus di dalam kompleks pasar tersebut sekaligus untuk mengetuk hati Pemkot Jogja agar lebih peduli terhadap kebersihan pasar.

Konsep lomba sengaja dikemas dengan gropyokan agar dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Dengan begitu, uang kas yang dikeluarkan untuk hadiah menjadi lebih bermanfaat. “Walah mas, den baguse (tikus) itu kalau malam beraksi di ternit rumah penduduk,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu menjelaskan, pemkot sebenarnya telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengendalikan penyakit rabies, leptospirosis, dan demam berdarah dengue (DBD). Satgas yang disebut Komisi Pengendalian Zoonosis itu terdiri atas petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan), Dinas Pendidikan, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Anggota satgas terbagi sesuai kewenangan pada lembaga masing-masing.

Dicontohkan, BLH menangani sampah agar tidak menimbulkan penyakit. Kemudian, Disperindagkoptan mengatasi hewan yang menjadi faktor pembawa penyakit. “Semuanya saling sinergi untuk bisa memerangi tikus,” jelasnya.

Menurut Endang, jenis penyakit yang termasuk dalam kategori zoonosis cukup banyak. Jika penyakit tersebut tidak dikendalikan bisa mengakibatkan bencana. Seperti kasus yang pernah terjadi pada 2015. Ketika itu empat orang dalam satu wilayah meninggal dunia karena leptospirosis. (eri/yog/ong)

Pemkot Punya Satgas Pemburu Tikus