JOGJA-Olahraga tak hanya bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh. Dari olahraga bisa diraih sebuah prestasi bangsa. Seperti Tiongkok, yang mengawali nasionalisme anak mudanya dengan mengusung konsep olahraga prestasi.

Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas Kolonel Inf Fajar Setiawan melihat ajang Development Basketball League (DBL) sebagai salah satu bentuk olahraga prestasi yang bisa memicu tumbuhnya nasionalisme generasi muda. Apalagi, peserta kompetisi basket ini adalah generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah.

“Ini menjadi kewajiban semua pihak. Untuk membangkitkan nasionalisme di setiap dada generasi muda. Semua elemen bangsa harus terus menularkan semangat mencintai bangsa ini,” ujarnya saat menerima audiensi General Manager Radar Jogja Berchman Heroe dan Penanggung Jawab Radar Jogja Online Frietqi Suryawan, di Makorem, Rabu (10/8).

Sebagai pengawal pertahanan negara, kata Fajar, tentara berkewajiban untuk mendukung hal-hal yang berkaitan dengan kebangsaan. “Kompetisi dalam sebuah olahraga bermanfaat. Ini membentuk sebuah bangsa yang kuat,” lanjutnya.

Karena itu, mantan Danrem malang itu tak mau hanya sekadar mendukung acara. Perwira dengan tiga melati di pundak itu siap hadir pada final DBL DI Jogjakarta Series 2016 bertema “Cintaku Indonesiaku” yang digelar di GOR UNY hari ini. Danrem sekaligus akan menutup rangkaian acara. “Ini momentum membangkitkan semangat mencintai bangsa ini,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, saat ini duta olahraga seluruh dunia tengah berjuang untuk mengibarkan bendera bangsanya di ajang olimpiade. Semangat dari DBL ini bisa ditularkan untuk mendukung atlet-atlet Indonesia berjuang di Olimpiade Rio Brasil.

“Jawa Pos harus banyak membuat event-event seperti ini. Agar anak-anak muda di tengah perkembangan zaman tetap memiliki modal nasionalisme,” jelas perwira yang mengawali karir di Bataliyon Infanteri (Danyonif) 315 Garuda Bogor, Jawa Barat.

General Manager Radar Jogja Jawa Pos Group Berchman Heroe mengatakan, peran TNI saat ini sangat krusial. Terutama untuk membangun raca cinta tanah air bagi generasi muda. “Teknologi yang berkembang pesat membuat akses ke pelosok dunia mudah. Itu keuntungan. Tapi juga mengkhawatirkan jika tidak dibarengi jiwa nasionalisme,” katanya.

Heroe mengambil contoh saat pembalap Formula 1 Rio Haryanto bertarung di ajang balapan jet darat tersebut. Jika Rio tak memiliki jiwa nasionalisme, bukan mustahil bakat-bakat seperti itu bisa dengan mudah lari ke negara lain.

“Apalagi untuk olaharaga yang telah menjadi universal. Kehadiran TNI bisa untuk membangkitkan semangat bertanding yang itu didasari rasa cintanya terhadap bangsa dan negara ini,” jelas Heroe. (eri/yog/ong)