DWI AGUS/RADAR JOGJA
MUTU DOSEN: Dirjen Sumber Daya Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti (tengah) saat sidang kelulusan sertifikasi pendidikan untuk dosen.
JOGJA – Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) mengungkapkan masih banyak tenaga pengajar dosen yang belum layak sertifikasi. Ini terbukti masih adanya dosen yang tidak lulus pada gelombang pertama sertifikasi. Sedikitnya ada 1.580 dosen yang dinyatakan tidak lulus dari total 4.512 peserta sertifikasi.

Dari jumlah 1.580 dosen, sebanyak 20 persen di antaranya tidak lulus karena melakukan plagiarisme. Rata-rata ini dilakukan saat dosen-dosen tersebut diminta menulis deskripsi diri. Dari data yang terkumpul, beberapa di antaranya memiliki kemiripan dalam susunan kata dan kalimatnya. Hal itu diungkapkan Dirjen Sumber Daya Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti.

“Angka tersebut setara dengan 316 dosen yang melakukan copy paste (plagiarisme). Padahal ini baru membuat portofolio, yang tidak mungkin dosen satu dan lainnya sama. Portofolio adalah pengalaman pribadi, dilihat dari kasusnya, kebanyakan hanya copas dari dosen terdahulu yang sudah lolos sertifikasi,” ujarnya saat Sidang Kelulusan Sertifikasi Pendidikan untuk Dosen di Grand Quality Hotel, Sabtu (13/8).

Portofolio ini, lanjutnya, berisi deskripsi pengalaman selama di perguruan tinggi. Ini merupakan salah satu syarat wajib bagi setiap dosen untuk memperoleh sertifikasi. Konten di dalamnya berupa narasi penelitian dan kajian yang telah dilakukan.

Tentunya ini menjadi tanda tanya besar ketika ditemukan portofolio yang mirip. Padahal setiap dosen memiliki kajian dan penelitian yang berbeda. Meski berada dalam satu institusi yang sama, tidak mungkin portofolio ini runut kemiripannya.

“Akan menjadi aneh ketika terjadi kesamaan portofolio dengan dosen terdahulu yang sudah lolos sertifikasinya. Pelanggaran ini ada beberapa kategori. Ada yang mencapai 70 persen, bahkan hingga 90 persen,” jelasnya.

Di sisi lain 80 persen penyebab lain ketidaklulusan dosen terdiri dari berbagai aspek. Mulai dari kemampuan berbahasa Inggris hingga penerbitan jurnal ilmiah. Ini menjadi catatan penting bagi Kemeristekdikti sebagai penyelenggara sertifikasi dosen.

“Setidaknya kementerian merugi hingga angka Rp 16 miliar. Jika yang tidak lolos mencapai 1.580 orang, tinggal dikalikan Rp 800 ribu per dosen. Sertifikasi ini kan ditanggung kementerian,” ujarnya.

Meski begitu, bagi dosen yang tidak lolos tahapan pertama dapat mengikuti sertifikasi pada gelombang tiga. Hanya, penyelenggaraan ini dikhawatirkan terkendala anggaran. Sebab, pemerintah saat ini tengah melakukan kebijakan pemangkasan anggaran.

“Dari total 180.000 dosen yang berijazah S2 baru 46 persen yang sudah melakukan sertifikasi. Sementara untuk jumlah keseluruhan dosen yang ada bila ditambahkan dengan yang masih berijazah S1 jumlahnya 220.000 orang,” katanya. (dwi/ila/ong)