GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SEPAK BOLA LUMPUR: Warga berebut bola saat mengikuti perlombaan sepak bola lumpur dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-71 di Kampung Banjarsari, Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Minggu (14/8).
JOGJA – Gegap gempita perayaan 17 Agustus kian terasa. Berbagai aksi dilakukan warga untuk mengisi kegembiraan dalam merayakan Hari Kemerdekaan. Di perkampungan, warga mengadakan perlombaan yang unik dan seru. Di Kampung Banjarsari, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman misalnya, warga di sana mengadakan pertandingan sepak bola lumpur, kemarin (14/8).

Warga berebut bola saat mengikuti perlombaan sepak bola. Tak hanya remaja putra saja yang semangat mengikuti pertandingan, remaja putri juga tak mau kalah bersaing. Kegiatan yang diisi berbagai perlombaan itu juga sebagai sarana warga setempat untuk bersilaturahmi dan memperkuat kerukunan.

Lain lagi di Kawasan Malioboro. Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) mengikuti lomba sepak bola mengenakan daster dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-71. Perayaan yang sederhana namun meriah tersebut sebagai ajang untuk mempererat kerukunan.

Sejumlah lomba lainnya seperti lomba makan krupuk, pecah air, dan sepak bola yang diadakan dan diikuti oleh puluhan pedagang kaki lima di kawasan Malioboro itu tak luput dari perhatian para wisatawan. Tak terkecuali sejumlah wisatawan mancanegara yang melintas menyempatkan berhenti untuk sekadar melihat maupun mendokumentasikannya.

Sedangkan di Bentara Budaya Jogjakarta, pameran repro foto semasa perjuangan dipajang agar masyarakat bisa mengetahui sejarah lebih mendalam. Terlebih, Jogjakarta memiliki peran penting atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain menjadi provinsi sulung, Jogjakarta juga pernah menjadi ibu kota negara. Inilah yang tersaji dalam pameran itu.

“Banyak sejarah yang terdokumentasi dalam foto-foto lawas. Itulah mengapa kami tertarik untuk menggelar pameran Reproduksi Foto bertajuk Mengenang Djogjakarta Ibukota RI 1946-1949,” kata Kurator Bentara Budaya Jogjakarta Hermanu, kemarin.

Tepat 4 Januari 1946 Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta pindah dari Jakarta menuju Jogjakarta karena adanya serangan penjajah di Jakarta. Tepat pada tanggal ini pula Jogjakarta menjadi ibu kota negara.

Peran lainnya adalah, pernyataan turut bergabung ke NKRI saat pertama dideklarasikan 17 Agustus 1945. Ini pula yang membuat Jogjakarta mendapatkan pengukuhan status Istimewa dari pemerintah pusat.

Berpindahnya ibu kota negara ke Jogjakarta juga tidak singkat. Selama empat tahun, segala pusat pemerintahan dilakukan dari Jogjakarta. Dalam kurun waktu itu pula banyak cerita sejarah terjadi di Indonesia. Hingga akhirnya 28 Desember 1949 rombongan Presiden kembali lagi ke Jakarta.

Sejarah-sejarah yang tercatat selama empat tahun tidak selamanya indah. Beberapa cerita justru meninggalkan pilu mendalam bagi rakyat Indonesia. “Seperti terjadinya Clash I dan Clash II, hingga peristiwa politik, perundingan hingga perang gerilya,” ungkapnya.

Seluruh peristiwa sejarah ini ternyata terekam oleh juru foto baik dari Hippos atau juru foto Kementerian Penerangan pada masa itu. Kebanyakan karya foto yang ditampilkan dalam pameran ini adalah sisi lain.

“Jadi kami tidak menemui foto-foto ini di buku sejarah saat ini. Mulai dari peristiwa hingga angle pengambilan foto yang belum pernah kami lihat. Banyak sekali dalam foto tersebut mendokumentasikan sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” ujarnya.

Dalam caption foto itu ditulis Orang Kuat Jogjakarta. Ini menggambarkan betapa Presiden RI saat itu menghormati HB IX. “Dalam setiap keputusan krusial juga selalu dilibatkan, termasuk dalam Serangan Oemoem 1 Maret,” jelas Hermanu.

Untuk mendapatkan foto-foto ini tidaklah mudah. Hermanu awalnya hanya berkunjung ke seorang kolektor barang antik di Semarang. Tak disangka di tempat itu, dia justru menemukan sebuah buku tua berjudul Lukisan Perjuangan Rakyat Indonesia 1945-1950.

Buku yang masih dalam format hitam putih ini merupakan terbitan Kementerian Penerangan Jakarta 1950. Konten dari buku-buku ini mayoritas menggambarkan sosok Soekarno dan pemerintahannya kala itu. Itulah yang menjadi salah satu penyebab buku ini tidak eksis.

Hermanu menjelaskan, pada era pemerintahan orde baru, ada upaya menutup sejarah bangsa. Segala sesuatu yang berkaitan dengan rezim Soekarno dihilangkan. Termasuk buku-buku sejarah yang memuat cerita dan perjalanan sang pemimpin.

“Ini langka karena ditahun 1966 kebanyakan buku dibakar. Foto-foto di dalamnya jarang dilihat dibuku sejarah, hanya ini yang tersisa. Buku ini berisikan 500 halaman yang didominasi foto dengan caption,” jelasnya.

Budayawan Gabriel Possenti Sindhunata SJ menilai, sejarah Jogjakarta kepada NKRI tidak bisa dilupakan. Inilah yang menjadi catatan baginya, tentang status keistimewaan Jogjakarta. Menurutnya, setiap orang wajib mengetahui sejarah sebelum mempertanyakan.

Sosok perupa Nasirun juga angkat bicara dalam pameran ini. Menurutnya, era globalisisasi ini arti pahlawan sangatlah penting. Jogjakarta, menurutnya, adalah kawah candradimuka melahirkan pemimpin dan pahlawan hebat.

Era globalisasi membuat generasi saat ini menajdi sangat kapitalis. Banyak yang memilih untuk menuntut daripada bertindak. Alhasil tidak banyak perubahan yang terjadi. Ini karena cenderung menunggu dan mengeluh atas apa yang dilihatnya.

“Setiap anak bangsa seharusnya tidak hanya menuntut ke pemerintah, tapi ada sesuatu yang dikontribusikan ke ibu pertiwi saat ini. Contohlah petani yang rela berkorban dengan sawahnya untuk memberi makan banyak orang,” katanya. (aga/dwi/ila/ong)

Mengetahui Sejarah lewat Repro Foto Perjuangan