PURWOREJO – Jenis batuan yang tersusun rapi di Dusun Makamdowo, Desa Sidomulyo, Kecamatan/Kabupaten Purwo-rejo memiliki jenis yang sama dengan batuan yang ada di Candi Borobudur. Bukan berarti di lokasi tersebut du-lunya adalah candi, namun bisa jadi menjadi daerah un-tuk menyuplai kebutuhan batu saat pembangunan Borobudur.

“Andai dikatakan batunya lebih tua dari Borobudur bisa dikatakan iya. Tapi, kalau di-katakan tempat itu dulunya candi, masih perlu sejumlah penelitian,” kata pemerhati sejarah Purworejo Kusnan Kadari, kemarin (15/8)
Kusnan mengatakan, selama ini orang jarang mengungkap asal batu-batu yang disusun di Borobudur. Mereka lebih sering mengungkap sejarah berdirinya candi dan dari zaman apa candi itu dibangun.

“Perbukitan Menoreh yang memanjang hingga di Kokap, Kulonprogo itu menyimpan batu jenis andesit yang sering digunakan sebagai bahan candi,” jelasnya.

Kusnan menjelaskan, Sungai Progo yang berada paling dekat dengan Borobudur selama ini tidak menyimpan batuan dengan jumlah banyak. Jenisnya pun berbeda dengan yang ada di Borobudur.

“Jarak pegunungan Menoreh dengan Borobudur tidak terlalu jauh. Penguasa waktu itu juga punya wewenang untuk memerintahkan pe-ngangkutan dan yang terlihat di Borobudur bentuk batunya juga tidak besar-besar,” ungkapnya.

Batuan andesit di pegunungan Menoreh memiliki masa ber-beda dibanding batu Merapi yang jauh lebih keras dan ber-bobot. Bahan ini sangat cocok sebagai bahan pembuatan candi ataupun arca. Proses ter-bentuknya batu sendiri cukup lama dan bisa terjadi karena adanya proses pendinginan yang mendadak. Batu itu merupakan batuan beku yang telah mengendap.

“Kalau sekarang bentuknya sudah berubah ya sangat dimun-gkinkan karena telah terjadi proses kimia dan organik. Proses organik itu yang paling cepat karena batu-batunya tertimbun tanah,” ungkap salah satu ang-gota Masyarakat Sejarah Indo-nesia (MSI) Purworejo ini.

Selain di Sidomulyo, jenis batuan itu bisa dilihat di Desa Sudorogo, Kecamatan Kaligesing. Di tempat itu, susunan batu lebih rapi dan tertata. Di Sudo-rogo, lanjutnya, dikenal dengan Watu Setumpuk. Baik jenis dan bentuknya sangat mirip.

“Memang untuk memastikan tumpukan batu di Sidomulyo itu perlu diteliti oleh ahlinya yakni arkeolog. Kami hanya se-batas penglihatan mata saja,” katanya.

Tidak jauh berbeda dengan Kusnan Kadari, salah satu pe-merhati sejarah Purworejo yang lain, Agung Pranoto mengung-kapkan, jika jenis batu-batu di Sidomulyo itu bisa ditemui di beberapa tempat di Indonesia.

“Awalnya saya memang curiga ada kesengajaan menyusun batu itu, tapi setelah melihat lebih dalam dengan beberapa referensi yang ada, batuan itu cukup banyak, tidak hanya di Sidomulyo. Tapi di luar, tidak seheboh di Purworejo ini,” kata Agung.

Sementara itu, pantauan Radar Jogja, di lokasi reruntuhan batu di Dusun Makamdowo menjadi daya tarik masyarakat. Mereka mendatangi lokasi yang kebe-tulan dekat dengan akses jalan warga.Di lokasi itu, kini dipasang ga-ris polisi oleh Polsek Purworejo.

Sebab, di sana ada potensi longsoran batu dari Bukit Pa-jangan. Sayangnya, tidak ada petugas yang ditempatkan di lokasi sehingga banyak masy-arakat yang nekat menaiki bukitKepala Desa Sidomulyo Mar-woto mengaku tidak bisa me nahan keinginan warga untuk mende-kat. Sesuai prosedur yang ada, dia sudah melaporkan adanya temuan itu kepada pihak yang berwajib.

“Perangkat dan warga di sekitar lokasi telah kami beri-kan pemahaman dan diajak un-tuk turut mengamankan lokasi,” kata Marwoto. (udi/ila/ong)