GUNUNGKIDUL–Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada hari ini sangat berkesan bagi penduduk Gunungkidul, terutama warga Desa Putat, Kecamatan Patuk. Salah satu saksi sejarah veteran Pembela Tanah Air (PETA), membeberkan kisah heroik mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Dia adalah Gyuhei Sugeng. Istilah Gyuhei sendiri merupakan pangkat prajurit yang disandang ketika menjadi PETA. Kakek yang kini tinggal di Padukuhan Plumbungan, Putat, Patuk tersebut didaulat warga untuk memberi semangat kepada generasi sekarang.

“Waktu itu saya bergabung dalam Kesatuan Batalyon 10 Jogjakarta ,merapatkan barisan di Ambarawa, Semarang. Misi kami adalah menghadang tentara Sekutu,” kata Gyuhei Sugeng dihadapan warga Putat pada malam tirakatan Peringatan Kemerdekaan.

Kakek dengan 17 cucu dan delapan cicit ini mengenang detik-detik kemerdekaan. terutama menjelang kawan seperjuangan menjemput ajal dengan cara mengerikan, sembari terbata-bata.

“Teman-teman saya meninggal dunia dalam perang. Tubuhnya hancur terkena ledakan granat dari pasukan Sekutu,” tuturnya

Emosi veteran perang kemerdekaan yang mengantongi piagam tentara sukarela dari Yayasan PETA, turut meledak.

“Satu kata, penjajah harus diusir dari bumi pertiwi. Daidanco donone keret kasirat (salam hormat), kita harus merdeka,” teriaknya dan membuat warga yang mendengarkan ceritanya terhipnotis lantas turut berteriak “merdeka”.

Menurut Gyuhei Sugeng, cerita perjalan mengusir penjajah jika diceritakan semua tidak selesai semalam suntuk. Namun pada prinsipnya, dia berpesan kepada generasi sekarang untuk tidak melupakan sejarah.

“Persatuan itu penting, jangan tercerai berai. Dengan bersatu, akhirnya sekarang kita bisa merdeka,” tandasnya. (gun/dem)