Indonesia kecil, predikat itu diberikan untuk Jogjakarta. Karena di sini tempat berkumpulnya banyak warga dari penjuru Nusantara. Terdapat pelajar dan mahasiswa dari Sabang hingga Merauke yang menuntut ilmu di sini. Banyak pula warga dari berbagai daerah yang mencari peruntungan di DIJ. Masyarakat majemuk di Jogjakarta diminta saling menjaga dan menghargai. Ikut menjaga Jogjakarta tetap istimewa. Jogja handarbeni.

KEBERAGAMAN DIJ yang paling nyata bisa dilihat dari banyaknya tempat makan dari berbagai daerah. Makanan mulai dari Papua hingga Aceh bisa didapatkan di DIJ. Salah satu yang paling jelas adalah keberadaan rumah makan Padang.

Meski di perantauan, mereka juga mengaplikasikan pepatah “dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung”. Bagi para pedagang rumah makan Padang, hal itu dipraktikkan dengan penyesuaian rasa masakan.

“Kalau aslinya nanti bisa berkeringat dua ember, apalagi orang Jogja terkenal suka yang manis, kalau mau pedas tinggal tambah sambel ijo,” ujar penasehat Himpunan Pengusaha Minang Yogyakarta Yose Riza, kemarin.

Pria yang akrab disapa Bang Yose ini mengatakan, predikat Jogja sebagai miniatur Indonesia, memang sudah terbukti sejak lama. Keberagaman warga di DIJ, yang berasal dari berbagai daerah itu pula yang menggerakkan usahanya. Termasuk mengubah nama menjadi rumah makan Padang Murah Meriah. Usahanya itu sudah tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

“Dulu yang makan mayoritas mahasiswa luar daerah yang inginnya makanan yang murah meriah, jadilah namanya saya ganti jadi rumah makan Murah Meriah,” ujarnya.

Ketua Komisi D DPRD DIJ itu menambahkan, banyaknya mahasiswa luar daerah di DIJ juga menjadi nilai tambah mencari peruntungan di DIJ. Diakuinya, pada awal merintis usaha pada 1982 silam, usaha kuliner belum seramai sekarang. “Kalau dulu masih banyak mahasiswa yang bawa kompor, masak sendiri, sekarang jarang, lebih senang jajan,” ujarnya.

Hal itu pula yang diperkirakan oleh politikus Partai Gerindra itu, yang menjadikan menjamurnya usaha kuliner di DIJ. Saat ini tidak sulit untuk mencari masakan khas dari berbagai daerah Indonesia di DIJ. Berbagai komunitas pedagang dari luar daerah pun bermunculan di DIJ.

Bang Yose menambahkan, kunci sukses berusaha di DIJ adalah bisa menyesuaikan. Selain soal rasa masakan, juga dengan warga setempat. Apalagi, lanjut Bang Yose, antara Jogja dan Padang memiliki kesamaan.

Terlebih Raja Keraton Jogja Hamengku Bawono (HB) Ka 10 pada 2002 lalu juga mendapat gelar Sangsako adat Kerajaan Pagaruyung Minangkabau, Yang Dipatuan Maharajo Sati. “Eksistensi warga Minang itu karena dapat menyesuaikan dengan adat istiadat setempat,” jelasnya.

Menyesuaikan dengan adat di tanah perantuan juga diterapkan para mahasiswa dari luar Pulau Jawa. Di temui di asrama Kalimantan Barat, Marthen Bartolomius Eko, 24, mengatakan interaksi yang dibangun oleh mahasiswa asal daerah lain dengan warga sekitar sudah berjalan dengan baik.

“Warga menerima kami dengan baik selama kami tinggal di sini, kami juga mudah untuk beradaptasi dengan warga sekitar,” kata Ketua Asrama yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Jogjakarta ini.

Mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut sering mengikuti kegiatan warga Kepuh GK III/I 109 Klitren, Gondokusuman. Seperti kerja bakti dan acara-acara rutin yang diadakan oleh warga. Tak jarang mereka menerima undangan kegiatan dari ketua RT.

Marthen menambahkan, kegiatan yang sering dilakukan di luar jam kuliah adalah kegiatan kebudayaan dan keorganisasian antarmahasiswa se-Kalimantan. Dia juga bersyukur karena kegiatan pekan budaya daerah Kalimantan sudah menjadi event tahunan di Jogja. Artinya pemerintah Jogja sendiri membuka tangan untuk kegiatan mahasiswa yang berasal dari luar Jawa.

Selain sebagai Kota Pelajar, keberagaman dan keramahan warga Jogjakarta menjadi alasan Marthen dan kawan-kawannya belajar di kota ini. Marthen mengungkapkan, menghormati warga sekitar adalah sebuah keharusan, apalagi mereka hanya sebagai pendatang di Jogjakarta. “Salah satunya dengan mengubah intonasi bernada tinggi menjadi lebih halus saat berkomunikasi dengan warga sekitar. Ini sebagai bentuk menghormati adat istiadat warga Jogja,” ungkapnya.

Sepaham seperti yang dikatakan Marthen, Trikasno Parman, 20, saat ditemui di Asrama Mahasiswa Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan menghormati warga sekitar adalah sebuah keharusan. Asrama yang terletak di Jalan Sultan Agung no 18, Jogja tersebut ditinggali oleh 24 mahasiswa dari universitas yang berbeda. Trikasno sendiri memilih Jogja sebagai tempat menuntut ilmu karena banyak teman-teman sedaerahnya yang belajar di kota pelajar ini.

Dia dan kawan-kawannya sering mengikuti kegiatan warga sekitar seperti lomba-lomba dan kerja bakti. Acara-acara kebudayaan yang diadakan pemerintah kota juga sering mereka ikuti. “Hal tersebut menjadi salah satu cara untuk mengenalkan budaya dan keragaman dari daerah asal kami, Sulawesi Selatan,” ujarnya. (cr1/pra/ila/ong)