SLEMAN – Persoalan over kapasitas sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) di Indonesia selalu mengemuka setiap tahun. Hal sama dialami Lapas Kelas II B Sleman (Cebongan). Lapas yang berlokasi di Kecamatan Mlati ini seharusnya hanya menampung 112 orang. Kenyataanya, dihuni 280 orang. Sebanyak 163 diantaranya berstatus tahanan. Sisanya narapidana.

Kepala Lapas II B Sleman Turyanto menyebut over kapasitas mencapai 150 persen. “Kondisi ini membutuhkan ekstra kerja bagi petugas dalam melakukan pengawasan,” ungkap Turyanto usai upacara pemberian remisi secara simbolis bagi 106 narapidana di lapas setempat kemarin Rabu (17/8).

Menurut Turyanto, jumlah penghuni lapas tak sebanding dengan kekuatan personel sipir penjara. Perbandingannya jauh dari ideal. Bagaimana tidak, setiap regu jaga hanya beranggota 11 orang. Artinya, satu sipir mengawasi 26 narapidana. Perbandingan itu, jauh dari rasionalitas yang diharapkan.

Sementara itu, pada peringatan HUT ke 71 Republik Indonesia sebanyak 106 narapidana menerima remisi umum. Remisi umum satu (pengurangan masa tahanan) diberikan pada 99 narapidana. Sedangkan tujuh narapidana lain bisa langsung bebas berkat remisi tersebut. “Pengurangan masa tahanan bervariasi satu hingga empat bulan,” jelasnya.

Turyanto sebenarnya juga mengajukan 15 remisi bebas. Ternyata, delapan narapidana diputuskan mendapatkan bebas bersyarat. Pemberian remisi dilihat berdasarkan perilaku narapidana selama menjalani masa penahanan.

“Remisi merupakan pemberian hak kepada mereka, timbal baliknya supaya lebih tertib, sopan dan teratur,” papar Turyanto.

Penyerahan surat remisi umum disampaikan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo pada perwakilan narapidana yang ditunjuk. Bupati menyampaikan selamat pada para penerima remisi yang akan menghirup udara di luar lapas. Ppada mereka, bupati berpesan selalu menjaga perilaku baik. Seperti di dalam lapas. “Bagi yang belum untuk terus bersabar. Perbaik diri, karena remisi merupakan hak dari penghuni lapas yang bisa diterima setiap tahun,” tuturnya.

Bowo, 38, penerima remisi mengaku cukup senang dengan remisi yang telah diterima. Warga Terban, Kota Jogja itu mendekam di sel prodeo karena kasus penganiayaan. “Sekarang sudah tinggal sebelun. Dengan remisi yang diberikan besok (18 Agustus) sudah bisa keluar,” ungkapnya. (bhn/hes)