SELAIN basket, kompetisi lain juga diadakan dalam Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2016 yang berakhir 13 Agustus 2016 lalu. Berupa kompetisi dance, jurnalis, dan kompetisi suporter, Untukmu Guruku.

Untukmu Guruku berupa penghargaan kepada guru yang dianggap sangat berpengaruh bagi muridnya yang diwujudkan berupa karya dan deskripsi tentang guru itu. Tahun ini, siswa SMA De Britto Jogja, Aditya Maherabta, berhasil memenangi kompetisi Untukmu Guruku tersebut.

Dia menceritakan guru Bahasa Indonesianya, Kartono. Bagaimana cerita Aditya tersebut? Berikut cuplikan tulisan Aditya yang diberi judul Menjadi Guru untuk Muridku.

Guru hendaknya menurunkan apa yang ia miliki kepada muridnya. Hal ini juga yang menurut kami dilakukan semua guru di SMA Kolese De Britto, namun memang pada konteks ini kami memilih Pak Kartono.

Mengapa Pak Kartono? Pak Kartono merupakan contoh konkret “guru yang me-murid”. Maksudnya adalah guru yang berorientasi pada peserta didik. Semua yang beliau lakukan untuk kebaikan anak didiknya.

“Menjadi Guru untuk Muridku” merupakan judul buku ke-10 karya Pak Kartono. Buku ini berisi kritikan tentang bagaimana seorang guru harusnya berorientasi pada murid.

“Guru menjadi guru ya untuk murid, bukan untuk sertifikasi, dinas, yayasan, dll,” kata Pak Kartono saat kami melakukan sesi pemotretan. Jika guru berorientasi pada murid, niscaya relasi yang lain akan fine-fine saja.

Pak Kartono juga selalu menekankan bahwa untuk bisa mendidik murid, guru harus mengawali dari dirinya sendiri. Hal ini yang mendorong pak kartono untuk selalu berpakaian rapi dan pantas, bahkan di sekolah sejenis SMA Kolese De Britto, sekolah dimana penampilan bukan kunci utama pendidikan. Namun Pak Kartono senantiasa memberi contoh yang baik bagi para muridnya. (rin/iwa/ong)